Rabu, 29 Juli 2015

Muhaddits Besar Itu Dulunya Beragama Hindu

Muhaddits Besar Itu Dulunya Beragama Hindu.

Dia adalah Prof. Dr. Muhammad Dhiya'urrahman Al A'dzamy. Berikut biografi singkat beliau yang berhasil kami himpun dari berbagai sumber dan berdasarkan wawancara kami dengan beliau setahun yang lalu.

Beliau dilahirkan di India pada tahun 1362 H/1943 M dari sebuah keluarga Hindu yang taat. Beliau tidak ingat pasti kapan tanggal lahirnya. Semua data tentangnya hilang saat melarikan diri dari India.

Terlahir dari keluarga yg berkecukupan membuatnya mampu melanjutkan pendidikan hingga tingkat tsanawy (SMP). Sejak usia dini minat bacanya cukup tinggi. Banyaknya agama dan kepercayaan di India mendorong rasa ingin tahunya untuk mempelajari berbagai agama, mulai dari Yahudi, Kristen ,Budha dan agama-agama lainnya. Hingga kemudian Allah membukakan hatinya untuk memeluk Islam.

Interaksinya dengan berbagai macam literatur keagamaan mendorongnya menulis berbagai makalah ilmiah di bidang perbandingan agama. Diantara karya beliau dibidang perbandingan agama adalah "Dirasat fi Al-Yahudiyah wa An-Nashraniyah wa Adyaan Al-Hindi. Buku ini dicetak dalam jilid besar oleh "Maktabah Ar-Rusyd"

Perjalanan spiritualnya hingga memeluk islam sangat panjang. Semuanya beliau tuangkan dalam sebuah risalah yang berjudul "Min Dzulumaat Al Watsaniyyah Ila Dhiyaa' Al-Islam"

Saat menyatakan masuk islam, keluarga menolak keras perpindahan yang dilakukannya. Berbagai cara ditempuh agar menyurutkan iman keislamannya. Puncaknya mereka berencana untuk membunuhnya. Karena tekanan dan penindasan yang dialaminya demi mempertahankan keyakinan barunya, beliau melarikan diri ke negara tetangga Pakistan. Di Pakistan beliau ikut sebuah lembaga pendidikan asuhan Jamaah Islamiah (JI) yang diketuai oleh Abul A'la Al Maududy. Disanalah beliau mempelajari dan mendalami Madzhab Hanafy. Hingga akhirnya Allah membimbing beliau untuk sepenuhnya mengikuti dalil dan meninggalkan fanatik madzhab serta Jama'ah Islamiyah. Kisahnya bersama Jamaah Islamiyah bisa dibaca pada bagian terakhir dari buku beliau "Marwiyaat Abu Hurairah" cet. Maktabah Al ghuraba' madinah.

Agar keilmuannya semakin mantap, beliau memutuskan untuk pindah ke negeri Haramain. Di tempat barunya, beliau melanjutkan pendidikan strata satu di Universitas Islam Madinah (UIM). Setelah menyelesaikan pendidikan strata satu, beliau melanjutkan pendidikan pada program pasca sarjana Universitas Al Azhar Kairo di bidang hadits. Setelah meraih predikat Doktor dengan nilai terbaik beliau kembali dan diberi tugas sebagai dosen di Universitas Islam Madinah.

Beberapa tahun kemudian beliau dipercaya untuk menjalankan amanah sebagai Dekan Fakultas Hadits Universitas Islm Madinah. Selain pakar di bidang Hadits, Beliau juga sangat mumpuni di bidang perbandingan agama dan theologi, beliu sering diminta untuk menjadi pembimbing terhadap sejumlah desertasi di didang ini. Sebagai penghormatan atas kerja keras dan pengabdiannya terhadap Islam Kerajaan Saudi Arabia memberinya kewarganegaraan.

Kini beliau -hafidzahullah- tinggal menetap di Madinah Al Munawwarah. Diusianya yang tak lagi muda beliau menghabiskan waktunya untuk menulis pada berbagai disiplin ilmu. Tiga hari dalam sepekan (Senin, Selasa, Rabu ba'da Isya) beliau rutin menyampaikan ta'lim di Masjid Nabawi As-Syarief dengan materi Ilmu Hadits(*).

Saya pernah bertanya, "Mengapa anda lebih banyak waktu menulis ketimbang memberi pelajaran..?" Beliau menjawab "Bila aku mati, karyaku adalah kehidupan yang kedua bagiku"

Diantara Karya beliau:

1. Al jaami" al kamil (insyaallah akan dicetak dalam 20 jilid(**)
2. Mu'jam Mustholsh Al-Hadits
3. Dirasaat fil jarh watta'dil
4. Dirasat fi Al Yahudiyah wa An Nashraniyah wa Adyaan Al-Hindi
5. Minnatul Kubro Syarh & Takhrij Sunan As-Shughro (9 jilid)
6. Aqdhiah Rasulillah sallallahu alaihi wasallam karya Ibn al-Thalla' al-Qurtubi (wafat 497 h) (dirosah & tahqiq)

Dan Masih banyak lagi

Catatan:
* Saat ini beliau fokus pada qiroah & ta'liq terhadap Shohih Bukhory
** Kabar itu kami terima dari beliau beberapa pekan sebelum kami meninggalkan Madinah, wallahu a'lam apakah ada perubahan atau tidak.

Madinah, Ahad 23-04-1435 H 

Penulis: Ustadz Aan Chandra Tholib  El-Gharantaly hafizohullah

Selasa, 28 Juli 2015

Berkarya Dalam Diam

BERKARYA DALAM DIAM

Dialah guru kami tercinta Prof. DR. Muhammad Dhiyaa'urrahman Al-A'Dzamy. Seorang mantan Hindu yang kini menjadi seorang Muhaddits.

Setelah pensiun dari jabatannya sebagai dekan fakultas hadits & dosen di universitas islam Madinah, beliau mendedikasikan seluruh waktunya untuk menulis & meneliti di berbagai disiplin ilmu baik hadits, sejarah & perbandingan agama.

Prof. DR. Anis Thohir mengatakan, "Setelah pensiun dia seolah ditelan bumi. Bertahun-tahun lamanya kami hampir tak pernah bertemu dengannya. Tiba-tiba ia muncul kembali dengan sebuah karya yang besar"

Iya, "Al-Jami' Al-Kamil" merupakan hadiah terbesar beliau untuk umat islam. Di dalamnya terkumpul semua hadits nabi shallallahu alaihi wassalam dari berbagai referensi baik yang sudah dicetak maupun yang masih dalam bentuk manuskrip. Setiap hadits diteliti baik sanad maupun matannya. Hasilnya terkumpullah kurang lebih 12 ribu hadits sohih tanpa pengulangan dan sekian ribu hadits dhoif. Rencananya buku akan terbit dalam 20 jilid besar.

Syaikh Anis mengatakan, "Mendengar tentang beliau aku teringat dengan As-Suyuthi. Dimana ia lebih banyak menutup diri dari manusia, dan buah dari kesendirian beliau adalah 900 karya diberbagi disiplin ilmu. Kadang terbersit dalam hati ini keinginan untuk bisa seperti mereka. Tapi melihat kebutuhan ummat terhadap dakwah rasa-rasanya tidak mungkin bagiku untuk itu. Tapi aku bersyukur ada orang seperti beliau. Jujur kami para dosen dibuat takjub dengan karya beliau ini. Terlebih lagi beliau menyelesaikan karya ini seorang diri dan merahasiakannya dari orang banyak. Sehingga kami baru mengetahuinya setelah semuanya rampung. Semoga Allah menjaga beliau"

Suatu hari saya pernah bertanya, "Mengapa setelah sekian lama anda baru berkenan mengajar di Masjid Nabawi.? Beliau menjawab, "Tawaran itu sudah ada sejak dulu, tapi aku sudah bertekad untuk mendedikasikan waktuku untuk Al-Jami' Al-Kamil. Kini setelah hampir dua puluh tahun lamanya, akhirnya semuanya rampung. Insyaallah ramadhan ini akan dicetak oleh penerbit Darussalam, tinggal merubah font saja.

Beliau pernah mengatakan, "Mimpiku selanjutnya adalah membuat ensiklopedi yang memuat biografi semua perawi (narator) hadits. Adanya khilaf dalam hal menghukumi kredibilitas seorang rowi disebabkan kurangnya kelengkapan data yang berkaitan dengan rowi tersebut, sehingga kita perlu menghimpun semua data yang berkaitan dengannya, berikut penilaian para ulama dari seluruh referensi yang ada. Untuk itu aku sudah membuat khuttoh (proposal penelitian) tinggal siapa yang mau melanjutkannya. Aku telah menghitung seluruh buku yang memuat biografi ulama, semuanya ada sekitar 300 san. Sementara jumlah perawi tidak lebih dari 50.000 orang.

Semoga beliau dan seluruh karyanya diberkahi Allah

Catatan:

Ternyata kita belum berbuat apa-apa. .

Batam 13 Syawwal 1436 H
Penulis: Ustadz Aan Chandra Tholib El-Gharantaly hafizohullah

Saya Ingin Menjadi Laki-Laki Yang Sholeh

Dia pergi untuk melamar seorang wanita.

Disaat dia melakukan nazhor syar'i (melihat calon istri sebelum lamaran).

Sang gadia bertanya : "Berapa hafalan Al-Qur'an antm ?"

Ikhwan tersebut menjawab : "Saya tidak hafal banyak tapi saya ingin menjadi laki-laki yang sholeh"

Lalu ikhwan tersebut balik bertanya kepada si akhwat : "Kalau anti berapa hafalan Al-Qur'anmu?"

Sang Akhwat menjawab : "Saya sudah hafal juz amma (Juz 30)"

Akhwat itu pun kemudian sepakat untuk menikah dengannya karena merasa dia adalah laki-laki yang jujur.

Akhirnya setelah menikah...

Sang Istri lalu memintanya untuk membantunya menghafal Al-Qur'an.

Sang suami berkata : "Mengapa kita tidak saling membantu dalam menghafal bersama-sama?" (Ini awal yang baik-red)

Mereka lalu memulai menghafal dengan Surat Maryam kemudian berikutnya dan berikutnya
sampai hafalan Qura'nnya selesai dan mereka berdua mendapat Ijazah hafalan Quran.

Kemudian istrinya menawarkan : (Dengam penuh semangat-red) "Mungkin kita juga bisa memulai menghafal Hadits-hadits Bukhari.."

Di sebuah kesempatan ketika dia berziarah kerumah mertuanya, sang suami mengabarkan kepada mertuanya kalau anaknya sekarang sudah hafal Al-Qur'an Al-Karim, Alhamdulillah.

Mertuanya kaget dengan apa yg dikatakan menantunya itu, dia lalu masuk ke kamar anaknya seraya memperlihatkan banyak kertas kepada menantunya.

Alangkah kaget dan bingungnya sang suami melihat kenyataan bahwa Istrinya ternyata memiliki ijazah hafalan Al-Quran dan Kutub As-Sittah (kumpulan 6 kitab2 hadits) bahkan sebelum dia menikah dengannya.

Subhanallah.... Dia tidak mempermasalahkan dari awal sedikitnya ilmu yang dimiliki sang calon suami, dan dia kemudian membantunya menghafalkan Al Quran sebagaimana dia telah menghafalnya disaat dia merasa kalau memang sang suami adalah orang Shalih (Dia juga tidak berdusta ketika dia berkata saya hafal juz 'amma karena dia tidak menafikan bahwa dia juga hafal surat yg lainnya).

Ya Allah jika aku bukan orang yg shalih maka karuniakan kepadaku istri yg shalihah yg membantuku, dan menjadikanku dekat dengan Mu, dan jadikanlah aku orang yg shalih...

Diterjemahkan dari teks bahasa arab: http://fajrialkhonsa.blogspot.com/2015/07/blog-post.html

Sepenggal Kisah Sopir Pribadi Syaikh Anis Thahir

Kisah Kejujuran Sopir Pribadi Prof. Dr. As-Syaikh Anis Thahir & Akhlak Penduduk Madinah

Dahulu aku punya seorang sopir pribadi yang tinggal bersamaku selama 16 tahun, dimana kebanyakan sopir yang ada hanya mampu bertahan 2 tahun saja dengan majikannya.
Sering aku memintanya untuk pulang ke keluarganya mengunjungi anak istrinya, tapi dia selalu menolak. Hingga berlalulah masa 16 tahun dia menemani saya, kemudian jatuh sakit.

Saya bilang kepadanya, kamu sakit. Pulanglah ke keluargamu dan bulanan kamu tetap aku berikan. Setiap kali aku buka pembicaraan ini dengannya dia menangis dan berkata: "Aku tidak mau keluar dari Madinah".

Lalu sampailah akhirnya dia sepakat pulang ke negerinya. Dan aku uruskan untuknya visa keluar, pasport dan tiket pesawat.

Hingga pada hari H dan ketika itu 3 jam sebelum take off, aku sengaja mendatanginya di kamarnya untuk melihat persiapannya. Aku terperanjat, aku dapati ternyata Allah telah lebih dulu memanggilnya, dia wafat padahal ketika itu tidak tersisa dari perjalanannya kecuali hanya 3 jam saja.

Kejujurannya, "Aku tidak mau keluar dari Madinah" benar-benar Allah penuhi, sehingga dia pun Allah wafatkan di Madinah. Lalu aku pun menguburnya dengan tanganku sendiri di pekuburan Baqi'.

(Dikisahkan oleh Prof. Dr. Asy-Syaikh Anis Thahir hafidzahullah tadi pagi di Gren Alia Prapatan. 11 Syawwal 1436 H - 27/7/2015)

Diceritakan oleh Ustadz Jafar Salih hafizohullah

Kamis, 23 Juli 2015

20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan Orang yang Menzalimi Kita

20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan Orang yang Menzalimi Kita

Di mata sebagian orang memaafkan kerap dianggap enteng, lebih dari itu memaafkan kelewat sulit untuk diterapkan pada diri saat dizalimi, kenapa? 

Karena, sebut Ustadz. Firanda, biasanya saat dizalimi kita ingin balas dendam, makanya yang bisa melakukannya adalah para nabi, siddiqin dan para ulama.

Kita tahu, lanjut beliau, setelah tauhid, yang paling penting adalah akhlak yang mulia, dan yang paling banyak memasukkan neraka adalah akhlak yang buruk. Salah satu akhlak yang baik adalah berbuat ihsan, contohnya adalah memaafkan. Untuk mencapai derajat ihsan, memilki keyakinan Allah selalu melihat kita tidaklah mudah. Buktinya kita sulit memaafkan, padahal Allah selalu tahu apa yang ada di hati kita.

Sementara Nabi sendiri telah memberikan contoh kepada kita. Sifat-sifat memaafkan yang dimiliki amatlah banyak untuk diuraikan. Saat membagikan ganimah pada perang hunain salah satunya, kala itu beliau dibentak dengan kerah bajunya ditarik lalu disebut tidak adil, namun beliau tak membalas, sebaliknya memaafkan. Dan banyak lagi sifat memaafkan yang dimiliki Nabi shallahu alaihi wa sallam yang lainnya.

Dalam kajian yang berlangsung di Masjid Sulaiman Fauzan Al Fauzan Bagik Nyaka, Lombok Timur, Kamis (23/7/2015), setelah menyebutkan mukaddimah panjang lebar di antaranya yang tersebut di atas, karena waktu terbatas, di hadapan lautan jamaah, Ustadz.Firanda secara maraton menyebutkan 20 sebab kenapa kita harus memaafkan orang yang menzalimi kita.

1. Hendaknya dia yakin bahwa yang membuat orang lain menzaliminya adalah Allah, tepatnya kezaliman yang menimpanya sudah merupakan garisan tangan/ takdir. Maka memiliki keyakinan seperti ini akan mendatangkan ketenteraman dalam hati. Lalu kenapa kita tidak menerima takdir dengan memaafkan orang yang menzalimi?

2. Hendaknya saat dizalimi, ia ingat akan dosa-dosanya. Kenapa dizalimi? Karena Allah sedang menimpakannya sesuatu, di antaranya karena dosa-dosanya. Dan memaafkan adalah salah satu cara untuk memperbaiki diri dan menghapus dosa-dosa tersebut.

3. Hendaknya dia ingat, memaafkan akan mendapat pahala. Memaafkan saat dizalimi adalah nikmat hakiki, bukan balas dendam, ini bukan nikmat hakiki malah azab sesungguhnya kendati ada kepuasan saat balas dendam.

4. Hendaknya dia ingat, saat dia memaafkan bahwa hatinya sedang bersih, dan ini kelezatan luar biasa, lebih dari kelezatan balas dendam.

5. Hendaknya dia tahu memaafkan karena Allah bukan karena jiwanya, akan membuatnya mulia, dan Allah akan mengangkat derajatnya.

6. Yang keenam ini dalah faedah yang paling besar di antara 20 sebab ini, yaitu tidak ada balasan kecuali sesuai perbuatan; memaafkan akan dibalas dengan dimaafkan. Dan memaafkan orang yang menzalimi akan dibalas oleh Allah dengan dimaafkan/diampuni dosa-dosanya.

7. Hendaknya dia tahu bahwa balas dendam akan membuatnya sibuk, waktunya akan habis untuk sesuatu yang tidak menguntungkan, sebaliknya akan kehilangan kebaikan-kebaikan yang banyak. Dan ini tentunya musibah yang lebih besar.

8. Balas dendam untuk diri, sesungguhnya dia sedang menolong nafsunya bukan Allah. Nabi sendiri, padahal mengganggu dirinya adalah sama dengan mengganggu Allah tapi beliau tidak pernah membela diri, yang beliau bela apabila hak Allah diganggu, lalu kita siapa dibandingkan Nabi?

9. Sabar saat dizalimi. Kita dalam berdakwah misalnya, tak ubahnya seperti orang yang berdagang, kita harus siap hujan panas, dalam berdakwah pasti akan mendapat rintangan termasuk dizalimi. Agar berhasil meraup keuntungan dalam berdakwah, tentu banyak-banyak memaafkan.

10. Hendaknya dia ingat bahwa dia bersama Allah jika dia bersabar saat dizalimi

11. Sabar disebut setengah keimanan dan syukur setengah yang lainnya. Jika dia bersabar saat dizalimi maka dia akan meraih setengah keimanan tersebut.

12. Hendaknya dia ingat ketika dia sabar saat dizalimi, dia bisa mengatur jiwanya, jiwanya akan takluk dengan sabar. Bukan sebaliknya dikuasai hawa nafsu yang membuatnya membalas lebih kejam.

13. Kalau dia bersabar saat dizalimi, Allah pasti akan menolongnya, kalau dia membalas untuk jiwanya, maka Allah serahkan kepada jiwanya. Sekarang pilih Allah atau jiwa?

14. Jika bersasabar saat dizalimi, Allah akan menjadikan orang yang menzalimi dibenci. Sebaliknya dia akan dicintai. Maka itu balaslah keburukan dengan kebaikan.

15. Balas dendam terhadap orang yang menzalimi kerap menambah parah keadaan. Sebaliknya memaafkan tak akan menuai resiko apapun.

16. Barangsiapa membiasakan balas dendam, akan kerap kembali terzalimi, karena tak ditolong Allah. Malah beresiko tinggi akan berbuat zalim pada orang lain.

17.  Kezaliman yang dialami akan menghapus dosanya dan mengangkat derajatnya.

18. Sesungguhnya kalau dia memaafkan saat dizalimi, dia telah memiliki kekuatan yang sangat besar, membuat musuhnya jadi terhina. Kenapa? Acapkali dizalimi, tak membuatnya sakit hati. Ia tetap tenang dengan segala aktivitasnya, malah berbalik berbuat baik. Tentu ini akan menyiksa batin musuhnya.

19. Kalau dia memaafkan musuhnya, jiwa musuhnya akan rendah, jiwa musuhnya akan kerdil. Sebaliknya dia aka berjiwa besar dan lapang dada.

20. Kalau dia berlapang dada, maka ini akan mendatangkan kebaikan dan kebaikan, demikiam seterusnya.

Intinya, tegas Ustadz. Firanda mengakhiri ceramahnya, tengoklah firman Allah:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

"Orang-orang yang senantiada berinfaq baik dalam keadaan senang maupun susah, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (Surat Al-Imran: 134).

(Intisari kajian 7 Syawwal 1436 H. bersama Ustadz Firanda Andirja, M.A hafizohullah di Masjid Al-Fauzan Bagik Nyake - Lombok Timur).


Semoga bermanfaat.

Bekasi,30 Robi'ul Akhir 1437 H.

Minggu, 05 Juli 2015

Abu Hurairoh: "Warisan Nabi"

Warisan Nabi

Sahabat yang mulia Abdurrohman Ad-Dausi atau lebih dikenal dengan nama Abu Hurairoh -Rodiallahu 'Anhu- sangat mencintai Ilmu untuk dirinya dan untuk orang lain.

Pada suatu hari beliau melewati sebuah pasar, beliau heran dengan kesibukan orang-orang dengan dunia dan temggelamnya mereka dalam berjual beli. Maka Abu Hurairoh pun bediri seraya menyeru mereka:

"Wahai manusia, apa yang menghalangi kalian..."

Kemudia mereka mengataka:

" menghalangi apa maksudmu wahai Abu Hurairoh...?

"Nabi lagi bagi-bagi warisan, kalian masih saja diaini? Tidakkah kalian pergi kesana untuk mengambil bagian-bagian kalian?" Jawabnya.

Mereka bertanya heran: "Dimana...?"

"Dimasjid" jawan Abu Hurairoh.

Kemudian mereka segera pergi kemasjid sedangkan Abu Hurairoh menunggu mereka sampai mereka kembali dari maajid. Lalu ketika mereka kembali ke pasar dimana Abu Hurairoh menunggu mereka mengatakan:

"Wahai Abu Hurairoh, kami telah datang kemasjid dan masuk kedalamnya tapi kami tidak melihat ada warisan lagi di bagi-bagi disana"

"Apakah kalian tidak menemukan oramg disana" kata Abu Hurairoh menimpali mereka

Merela menjawab: "Benar, kami menemukan orang-orang disana, ada yang lagi sholat, ada yang lagi baca Al-Qur'an, ada yang lagi membahas masalah halal-haram, dll.

Maka Abu Hurairoh memgatakan: "Celaka kalian, itulah warisan nabi"

(Dikutip dari kiab صور من حياة الصحابة halaman 482)



Jumat, 03 Juli 2015

Habib Ahmad Zein: Awas ! Syi’ah kalau Kalah Debat, Menuduh “Wahabi”.

Habib Ahmad Zein: Awas ! Syi’ah kalau Kalah Debat, Menuduh “Wahabi”.

“Saya yang jelas-jelas NU saja, karena anti terhadap Syi’ah mereka tuduh saya sebagai wahabi”, kata Habib Ahmad Bin Zein Al-Kaff dalam acara Multaqa Nasional Seruan Al-Haq di hotel Sahira Bogor april 2015 lalu.

Habib Ahmad Bin Zein Al-Kaff mengungkap jebakan Syi’ah bila kalah debat dengan membuat tuduhan Wahabi itu berdasarkan pengalaman dirinya saat membantah salah satu ustadz Syi’ah ber-marga “Shihab” yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak dijamin masuk surga.

(lihat link ini http://www.nahimunkar.com/menyoal-lontaran-quraish-shihab-nabi-muhammad-saw-tidak-dijamin-masuk-surga/)

“Jadi ceritanya, syi’ah ini bikin opini bahwa yang menyesatkan Syi’ah itu hanya wahabi, saya nggak terima. Saya gak terima ahlus sunnah wal jama’ah di bumi Indonesia ini di obok-obok.

Begitu saya countre Syi’ah dengan yayasan Al-Bayyinat, mereka bikin isu bahwa saya ini susupan wahabi”, tutur Imam Besar Al-Bayyinat JawaTimur itu.

Habib Ahmad pernah menanggapi seorang oknum MUI bermarga shihab yang terlihat sangat membela Syi’ah.

Tanggapan itu berupa rekaman video yang pernah di uploaddi Youtube. Setelah itu, Habib Ahmad Bin Zein Al-Kaff banyak dituduh “Wahabi” oleh kalangan Syi’ah dan Liberal.

Propaganda Syi’ah itu menjadi cacatan tersendiri bagi Habib Ahmad, dan beliau berupaya terus untuk memperingatkan umat Islam tentang propaganda Syi’ah tersebut.

Menurutnya, banyak pihak yang dituduh wahabi karena anti terhadap Syi’ah.

Propaganda Syi’ah dengan cara menuduh “wahabi” terjadi apabila mereka kalah dalam argumentasi.

“Makanya hati-hati, ini propaganda dan adu domba Syi’ah.

Pokoknya ntah kalau ada kiai-kiai yang anti Syi’ah, langsung tuh di tuduh, “Awas, Itu kiyai fulan Wahabi”.

Kenapa begitu? karena mereka tidak bisa lawan dengan argumentasi. “, terang Habib Ahmad.

Menutup pembicaraan, Habib Ahmad mengatakan, “Wahabi itu ahlus sunnah, saudara kita. Kalau syi’ah bukan.

Kita di obok-obok oleh Syi’ah. Banyak habib dan cendikiawan muslim yang di cuci otaknya di Iran. Di tamasyakan ke Iran. Pulang-pulang omongannya sudah berubah, mereka sesat dan menyesatkan…dst”. [nahimunkar.com]