Minggu, 28 Juni 2015

ميز بينهما يا دعاة الإسلام

ميز بينهما يا دعاة الإسلام

قال شيخ الٳسلام أحمد بن عبدالحليم الحراني (ابن تيمية) رحمه الله:

"فٳن الأمة متفقون على ذم الخوارج وتضليلهم، وٳنما تنازعوا في تكفيرهم. على قولين مشهورين في مذهب مالك وأحمد، وفي مذهب الشافعي أيضا نزاع في تكفيرهم"  )  مجموع الفتاوى المجلد ٢٨-صفحة ٥١٨(

فتأمل يا رعاك الله ممن يغتر بهم شيخ الٳسلام ابن تيمية، ينقل خلاف الأئمة في كفر الخوارج، والخوارج يكذبون على شيخ الٳسلام ابن تيمية وينقلون الكلام عنه لقتل المسلمين أو بالحرق كذبا وزورا على شيخ الٳسلام ابن تيمية رحمه الله. وشيخ الٳسلام بريء من الخوارج ومن التكفيريين والمتطرفين أصحاب الفكر المنحرف من الدواعش وغيرهم من الخوارج ممن شابههم ومن قبلهم تنظيم القاعدة قاتلهم الله. 

فأهل البدع لا يتورعون عن الكذب فيكذبون على أئمة الٳسلام لترويج فكرهم المنحرف، وقال أيضا شيخ الٳسلام ابن تيمية عن أتباع جنكسخان "وهم يقاتلون على ملك جنكسخان، فمن دخل في طاعتهم جعلوه وليا لهم وٳن كان كافرا،ومن خرج عن ذلك جعلوه عدوا لهم وٳن كان من خيار المسلمين"

قاله شيخ الٳسلام ابن تيمية رحمه الله في المجلد ٢٨ -صفحة رقم ٥٢٠-٥٢١ من مجموع الفتاوى

فتأمل يا رعاك الله ومن له عقل راشد وقارن بين جنكسخان وأتباعه وبين أبوبكر البغدادي الخارجي وأتباعه من الدواعش.

الله  يهديهم وإيانا. آمين

الكاتب: الأستاذ محمد حفيفي حفظه الله تعالى

Ibnul Qoyyim: Semakin Rendah Semakin Tinggi

SEMAKIN RENDAH SEMAKIN TINGGI

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : 

Semakin seorang hamba tunduk, hina, dan butuh kpd Allah maka ia semakin dekat kepadaNya dan semakin tinggi kedudukannya di sisiNya.

Maka orang yang paling berbahagia adalah orang yang paling tinggi peribadatannya kepada Allah.
Adapun terhadap makhluk (orang lain) maka sebagaimana yang dikatakan:

1. Butuhlah kepada siapa saja yang kau kehendaki maka jadilah engkau tawanannya.

2. Cukupkanlah dirimu dari siapa saja yang kau kehendaki maka engkau semisal dengannya.

3. Berbuat baiklah kepada siapa saja yang kau kehendaki maka engkau akan menjadi pemimpinnya.

• Maka seorang hamba sangat tinggi kedudukannya dan sangat dihormati oleh msyarakat jika ia sama sekali tidak butuh kepada mereka.

• Jika engkau berbuat baik kepada mereka sedangkan engkau tdk butuh kpd mereka maka engkau sangat mulia dan dihormati oleh mereka.

• Kapan saja engkau butuh kpd mereka -meskipun hanya seteguk air- maka berkuranglah kedudukanmu seiring dengan kadar kebutuhanmu kpd mereka.

• Karenanya tatkala Hatim Al-Ashom ditanya : "Bagaimanakah selamat dari manusia?", ia berkata, "Engkau memberikan kebaikan kpd mereka, dan engkau tidak mengharap sesuatupun Dari mereka" (Majmu al-fataawaa 1/39)

Dikutip dari: www.firanda.com


Sabtu, 27 Juni 2015

Jejak Aceh di Tanah Arab

Jejak Aceh di Tanah Arab

”Asyi”, sebutan 'marga' Aceh dikalangan orang Arab. Gelar Asyi (Aceh—dalam bahasa Arab) ini adalah merupakan sebuah pengakuan identitas bagi setiap orang Aceh di Arab Saudi yang terhormat, sehingga gelar "al-Asyi" ini kemudian bisa dikatakan sebagai salah satu marga Aceh yang wujud di Tanah Arab.

Sebutan negeri Aceh adalah tidak asing bagi sebagian orang Arab walaupun sekarang hanyalah salah satu propinsi di negeri ini. Karena itu, saya memandang bahwa martabat orang Aceh di Arab Saudi sangat luar biasa.

Sejauh ini, gelar ini memang tidak begitu banyak, namun mengingat kontribusi para Asyi ini pada kerajaan Saudi Arabia, saya berkeyakinan bahwa ada hubungan yang cukup kuat secara emosional antara tanah Arab ini dengan Serambinya, yaitu Aceh.

Banyak sekali orang Arab keturunan Aceh mendapat kedudukan bagus di kerajaan Saudi Arabia seperti alm Syech Abdul Ghani Asyi mantan ketua Bulan Sabit Merah Timur Tengah, Alm Dr jalal Asyi mantan wakil Menteri Kesehatan Arab Saudi, DR Ahmad Asyi mantan wakil Menteri Haji dan Wakaf dan banyak sekali harta wakaf negeri Aceh sekarang masih wujud disana.

Kita akan menguak tradisi sumbang menyumbang masyarakat Aceh di Tanah Hijaz (Mekkah, Saudi Arabia) pada abad ke-17 Masehi.

Ini menarik agar kita tahu bagaimana kontribusi Aceh atas tanah hijaz (sekarang bernama Saudi Arabia, red), dimana orang Aceh tidak hanya mewakafkan tanah, melainkan juga emas yang didatangkan khusus dari Bumi Serambi ke negeri Mekkah Al-Mukarramah ini.

Diriwayatkan bahwa pada tahun 1672 M, Syarif Barakat penguasa Mekkah pada akhir abad ke 17 mengirim duta besarnya ke timur. Mencari sumbangan untuk pemeliharaan Masjidil Haram. Karena kondisi Arab pada saat itu masihdalam keadaan miskin.

Kedatangan mareka ke Aceh setelah Raja Moghol, Aurangzeb (1658-1707) tidak mampu memenuhi keinginan Syarif Barakat itu.

Dia saat itu belum sanggup memberi sumbangan seperti biasanya ke Mesjidil Haram. Setelah empat tahun rombongan Mekkah ini terkatung katung di Delhi India.

Atas nasehat pembesar di sana, rombongan ini berangkat ke Aceh dan tiba di Aceh pada tahun 1092 H (1681M). Sampai di Aceh, duta besar Mekkah ini disambut dan dilayani dengan baik dan hormat oleh Sri Ratu Zakiatuddin Inayatsyah (1678-1688M).

Di luar dugaan, kedatangan utusan syarif Mekkah ini menyulut semangat kelompok wujudiyah yang anti pemerintahan perempuan.

Namun, karena sosok Sultanah Zakiatuddin yang ‘alim dan mampu berbahasa Arab dengan lancar. Bahkan menurut sejarah, dia berbicara dengan para tamu ini dengan menggunakan tabir dari sutra Dewangga (Jamil: 1968).

Utusan Arab sangat gembira diterima oleh Sri Ratu Zakiatuddin, karena mareka tidak mendapat pelayanan serupa ketika di New Delhi, India. Bahkan empat tahun mareka di India, tidak dapat bertemu Aurangzeb.

Ketika mereka pulang ke Mekkah, Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah, memberi mareka tanda mata untuk rombongan dan Syarif Mekkah juga sumbangan untuk Mesjidil Haram dan dan Mesjidil Nabawi di Madinah terdiri dari: tiga kinthar mas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (jeuebeuet musang), tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas, dua lampu kaki (panyot-dong) dari emas, lima lampu gantung dari emas untuk Masjidil Haram,lampu kaki dan kandil dari emas untuk Masjid Nabawi.

Pada tahun 1094 (1683 M) mareka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 H (September 1683 M).

Dua orang bersaudara dari rombongan duta besar Mekkah ini yakni Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim, tetap menetap di Aceh atas permintaan para pembesar negeri Aceh yang dalam anti raja perempuan (Jamil: 1968).

Mereka dibujuk untuktetap tinggal di Aceh sebagai orang terhormat dan memberi pelajaran agama dan salah satu dari mereka, kawin dengan Kamalat Syah, adik Zakiatuddin Syah.

Lima tahun kemudian setelah duta besar Mekkah kembali ke Hijaz dengan meninggalkan Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim di Aceh, Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah wafat tepat pada hari Ahad 8 Zulhijjah 1098H (3 Oktober 1688 M).

Pemerintahan Aceh digantikan oleh adiknya yaitu Seri Ratu Kamalatsyah yang bergelar juga Putroe Punti. Dia diangkat menjadi Ratu pemerintahan kerajaan Aceh atas saran Syeikh Abdurrauf Al Fansury yang bertindak pada saat itu sebagai Waliyul-Mulki (Wali para Raja).

Baru setelah meninggalnya Syeikh Abdurrauf pada malam senin 23 Syawal 1106 H (1695M), konflik mengenai kedudukan pemerintahan Aceh dibawah pemerintahan ratu yang telah berlangsung 54 tahun sejak Safiatuddin Syah (1641-1675M), terguncang kembali. Hal ini dipicu oleh fatwa dari Qadhi Mekkah tiba.

Menurut sejarah, “fatwa import” ini tiba dengan “ jasa baik ” dari golongan oposisi ratu. Lalu pemerintah Aceh, diserahkan kepada penguasa yang berdarah Arab, yaitu salah satu dua utusan Syarif dari Mekkah, yakni suami Ratu Kemalatsyah, Syarif Hasyim menjadi raja pada hari Rabu 20 Rabi`ul Akhir 1109 H (1699M).

Menurut sejarah, Ratu tersebut dimakzulkan akibat dari “ fatwa import ” tersebut.

Lalu kerajaan Aceh memiliki seorang pemimpin yang bergelar Sultan Jamalul Alam Syarif Hasyim Jamalullail (1110-1113 H / 1699-1702M).

Dengan berkuasanya Syarif Hasyim awal dari dinasti Arab menguasai Aceh sampai dengan tahun 1728 M.

Inilah bukti sejarah bahwa kekuasaan para Ratu di Aceh yang telah berlangsung 59 tahun hilang setelah adanya campur tangan pihak Mekkah, paska para ratu ini menyumbang emas ke sana.

Aceh yang dipimpin oleh perempuan selama 59 tahun bisa jadi bukti bagaimana sebenarnya tingkat emansipasi perempuan Aceh saat itu (Azyumardi Azra, 1999).

Terkait dengan sumbangan emas yang diberikan oleh Ratu kepada rombongan dari Mekkah, ternyata menjadi perbincangan dan perdebatan di Mekkah.

Disebutkan bahwa sejarah ini tercatat dalam sejarah Mekkah dimana disebutkan bahwa emas dan kiriman Sultanah Aceh tiba di Mekkah di bulan Syakban 1094 H/1683 M dan pada saat itu Syarif Barakat telah meninggal.

Pemerintahan Mekkah digantikan oleh anaknya Syarif Sa’id Barakat (1682-1684 M).

Snouck Hurgronje, menuturkan “ Pengiriman Seorang Duta Mekkah ke Aceh Pada Tahun 1683 ” sempat kagum terhadap kehebatan Aceh masa lalu dan dicatat dalam bukunya, dimana sewaktu dia tiba di Mekkah pada tahun 1883.

Karena Kedermawaan Bangsa dan Kerajaan Acehmasa itu, Masyarakat Mekkah menyebut Aceh Sebagai " Serambi Mekkah " di sana.

Ternyata sumbangan Kerajaan Aceh 200 tahun yang lalu masih selalu hangat dibicarakan disana.

Menurutnya berdasarkan catatan sejarah Mekkah yang dipelajarinya barang barang hadiah itu sempat disimpan lama di rumah Syarif Muhammad Al-Harits sebelum dibagikan kepada para Syarif yang berhak atas tiga perempat dari hadiah dan sedekah diberikan kepada kaum fakir miskin sedangkan sisanya diserahkan kepada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Begitu juga tradisi wakaf orang Aceh di tanah Arab sebagai contoh tradisi wakaf umum, ialah wakaf habib Bugak Asyi yang datang ke hadapan Hakim Mahkmah Syariyah Mekkah pada tanggal 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H.

Di depan hakim dia menyatakan keinginannya untuk mewakafkan sepetak tanah dengan sebuah rumah dua tingkat di atasnya dengan syarat; rumah tersebut dijadikan tempat tinggal jemaah haji asal Aceh yang datang ke Mekkah untuk menunaikan haji dan juga untuk tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Mekkah.

Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekkah untuk naik haji maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar (santri, mahasiswa) Jawi (nusantara) yang belajar di Mekkah.

Sekiranya karena sesuatu sebab mahasiswa dari Nusantara pun tidak ada lagi yang belajar di Mekkah maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal mahasiswa Mekkah yang belajar di Masjid Haram.

Sekiranya mereka ini pun tidak ada juga maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram untuk membiayai kebutuhan Masjid Haram.

Menurut sejarah:
Sebenarnya bukan hanya wakaf habib Bugak yang ada di Mekkah, yang sekarang hasilnya sudah dapat dinikmati oleh para jamaaah haji dari Aceh tiap tahunnya lebih kurang 2000 rial per jamaah.

Peninggalan Aceh di Mekkah bukan hanya sumbangan emas pada masa pemerintahan ratu ini juga harta harta wakaf yang masih wujud sampai saat ini seperti :

1. Wakaf Syeikh Habib Bugak Al Asyi'.
2. Wakaf Syeikh Muhammad Saleh Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah (sertifikat No.324) di Qassasyiah.
3. Wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (Pasar Seng).
4. Wakaf Muhammad Abid Asyi.
5. Wakaf Abdul Aziz bin Marzuki Asyi.
6. Wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina.
7. Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab di Mina.
8. Wakaf Muhammad Saleh Asyi di Jumrah ula diMina.
9. Rumah Wakaf di kawasan Baladi di Jeddah.
10. Rumah Wakaf di Taif.
11. Rumah Wakaf di kawasan Hayyi al-Hijrah Mekkah.
12. Rumah Wakaf di kawasan Hayyi Al-Raudhah, Mekkah.
13. Rumah Wakaf di kawasan Al Aziziyah, Mekkah.
14. Wakaf Aceh di Suqullail, Zugag Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang belum diketahuipewakafnya.
15. Rumah wakaf Syech Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di AweGeutah, Peusangan) di Syamiah Mekkah.
16. Rumah Wakaf Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga) di Syamiah.
17. Rumah Wakaf Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah.
18. Rumah Wakaf Chadijah binti Muhammad binAbdullah Asyi di Syamiah.

Inilah bukti bagaimana generous antara ibadah dan amal shaleh orang Aceh di Mekkah.

Mereka lebih suka mewakafkan harta mereka, ketimbang dinikmati oleh keluarga mereka sendiri.

Namun, melihat pengalaman Wakaf Habib Bugak, agaknya rakyat Aceh sudah bisa menikmati hasilnya sekarang.

Fenomena dan spirit ini memang masih sulit kita jumpai pada orang Aceh saat ini, karena tradisi wakaf tanah tidak lagi dominan sekali.

Karena itu, saya menganggap bahwa tradisi leluhur orang Aceh yang banyak mewakafkan tanah di Arab Saudi perlu dijadikan sebagai contoh tauladan yang amat tinggi maknanya.

Hal ini juga dipicu oleh kejujuran pengelolalaan wakaf di negeri ini, dimana semua harta wakaf masih tercatat rapi di Mahkamah Syariah Saudi Arabia.

Sebagai bukti bagaimana kejujuran pengelolaan wakaf di Arab Saudi, Pada tahun 2008 Mesjidil haram diperluas lagi kekawasan Syamiah dan Pasar Seng.

Akibatnya ada 5 persil tanah wakaf orang Aceh terkena penggusuran.

Tanah wakaf tersebut adalah kepunyaan Sulaiman bin Abdullah Asyi, Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan), Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga), Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi.

Di Mekkah juga penulis sempat bertemu dengan Saidah Taliah Mahmud Abdul Ghani Asyiserta Sayyid Husain seorang pengacara terkenal di Mekkah untuk mengurus pergantian tanah wakaf yang bersetifikat no 300 yang terletak di daerah Syamiah yang terkena pergusuran guna perluasan halaman utara Mesjidil haram Mekkah al Mukarramah yang terdaftar petak persil penggusuran no 608. Yang diwakafkan oleh Syech Abdurrahim Bawaris Asyi (Tgk Syik diAwe Geutah, Peusangan) dan adiknya Syech Abdussalam Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga).

Memang pada asalnya 75 persen tanah di sekitar Mesjidil Haram adalah tanah wakaf apakah itu wakaf khusus atau wakaf umum.

Dan sebagiannya ada milik orang-orang Aceh dulu dan ini bagian dari kejayaan Aceh yang pernah masuk dalam 5 besar negeri Islam di dunia bersama " Turki, Morroko, Iran, Mughal India dan Aceh Darussalam di Asia tenggara ".

Menurut peraturan pemerintah Saudi Arabia para keluarga dan nadhir dapat menuntuk ganti rugi dengan membawa bukti kepemilikan (tentu memerlukan proses yang lama menelusuri siapa nadhir tanah wakaf tersebut, penunjukan pengacara dll) dan bisa menghadap pengadilan agama Mekkah menutut ganti rugi dan penggantian dikawasan lain di Mekkah sehingga tanah wakaf tersebut tidak hilang.

Kalau seandainya tidak ada keluarga pewakaf lagi khusus untuk wakaf keluarga maka sesuai dengan ikrar wakaf akan beralih milik mesjidil haram atau baital mal.

Inilah pelajaran atau hikmah tradisi wakaf di Mekkah yang semoga bisa menjadi contoh yang baik bagi pengelolaan wakaf di Aceh.

Itulah secuil catatan yang tercecer, tentang wakaf orang Aceh di Tanah Arab, walaupun generasi sekarang hanya mengenal bahwa Aceh adalah Serambi Mekkah.

Namun sebenarnya ada rentetan sejarah yang menyebabkan Aceh memang pernah memberikan kontribusi penting terhadap pembinaan sejarah Islam di Timur Tengah.

Karena itu, selain Aceh memproduksi Ulama, ternyata dari segi materi, rakyat Aceh juga memberikan sumbangan dan wakaf yang masihy bisa ditelusuri hingga hari ini.

Karena itu, saya menduga kuat bahwa tradisi Islam memang telah dipraktikkan oleh orang Aceh saat itu, dimana “ tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah ”.

Akibatnya, kehormatan orang Aceh sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan.

Dalam hal ini, harus diakui bahwa Snouck telah “berjasa” merekam beberapa akibat dari episode sejarah kehormatan orang Aceh.

Inilah pelajaran penting bagi peneliti sejarah Aceh, dimana selain bukti-bukti otentik, sejarah juga bisa ditulis melalui oral history (sejarah lisan).

Pelajaran ini sangat penting bagi generasi sekarang untuk melacak dimana peran orang Aceh di beberapa negara, termasuk di Timur Tengah.

Inilah sekelumit hasil muhibbah saya ke Arab Saudi dan saya benar-benar terkesima dengan pengakuan identitas "Asyi" dan pola pengelolaan wakaf di Arab Saudi.

Selain ini, di dalam perjalanan ini, saya sempat berpikir apakah nama baik orang Aceh di Arab Saudi bisa sederajat dengan nama baik Aceh di Indonesia dan di seluruh dunia.

Yang menarik adalah hampir semua negara yang saya kunjungi, nama Aceh selalu dihormati dan dipandang sebagai bagian dari peradaban dunia.

Sumber : M. Adli Abdullah -.Penulis adalah sejarawan dan pemerhati sejarah Aceh

Jangan Sia-Siakan WhatsApp Anda

AGAR WHATSHAPP ANDA LEBIH BERMANFAAT, MAU???

Group2 Kajian Islami WA, Belajar Islam Via WhatsApp untuk Muslimin dan Muslimah

1. Group WA BIAS, Pemateri: Ustadz Firanda, Ustadz Abdullah Roy, Ustadz Fauzan, +6282226215000

2. Group WA Majelis Hadits, bersama Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, dafar ke no.+6282225243444

3. Group WA Kajian Kitab Tazkiyatun Nufus, bersama Ustadz Tauhidin Ali Rusdi Sahal, +6285865327524

4. Group WA Khusnul Khotimah (MTDHK), brsm Ustadz Abdullah Hadromi, +6283848104654

5. Group WA Radio Suara Al Iman Surabaya, 087770000846

6. Group WA Al-Sofwa, +6281333633382

7. Group WA Pojok Yg Haus Ilmu, brsm Ustadz Abdurrahman Ayub Abu Aminah, +6281310144169

8. Group WA Indonesia Bertauhid, brsm Ustadz Rahaenul Bahraen, +628986016060

9. Group WA: "Materi Dakwah WhatsApp" Pembina: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham 085256842111.

10. "CatatanPinggirUkhuwah"
-Ketik: nama#asal
-Kirim ke: 089693722513

Semoga Allah ta'ala memudahkan kita untuk menuntut ilmu yang bermanfaat melalui Aplikasi WA ini, dan dapat kita amalkan serta dakwahkan dalam kehidupan sehari-sehari, sehingga memperberat timbangan kebaikan kita di hari kiamat. Allaahumma aamiin.

Kumpulan Group WA Bermanfaat Buat Akhwat, Buruan Daftar...

1. "Silsilah Durus Linnisa" (Pembimbing: Ustadz Fauzan al-Kutawy)
-Ketik: #nama#kota
-Kirim ke: 089688865305

2. "Syiar Tauhid"
-Ketik: daftar#nama#asal
-Kirim ke 2 nomor ini: 089655088805 dan 081315544102

3. "Madrosah Sunnah" (Pembimbing: Ustadz Bambang Abu Ubaidillah)
-Ketik: nama(spasi)asal
-Kirim ke: 08195530002

4. "Studi Ilmu Aqidah" (Pembimbing: Ustadz Sofyan Chalid)
-Ketik: SIAQ#nama#kota
-Kirim ke 2 nomor ini: 082333872239 dan 081935699313

5. "Ayo Berbagi Faedah"
-Ketik: Daftar#nama#alamat#no WA
-Kirim ke: 08156712651

6. "Mahasiswi Ahlussunnah" (Pembimbing: Ustadz Bambang Abu Ubaidillah)
-Ketik: nama#asal#jurusan#universitas#semester
-Kirim ke: 082393134148

7. "Ahlussunnah Mengajar"
-Ketik: nama#asal#sekolah tempat mengajar#mata pelajaran yang diajarkan
-Kirim ke: 089693722513

Mari sambut Ramadhan dengan Ilmu-ilmu yang bermanfaat

Rabu, 24 Juni 2015

Marhayadi Muhayyar Pemecah Belah Aswaja

Syeikh Idahram (Marhadi Muhayyar) Agen Syiah Pemecah-belah Aswaja

Masih segar di ingatan kita tentang buku2 propaganda yang penuh adu domba.Buku-buku yang mengatasnamakan ASWAJA padahal penulisnya adalah seorang Syi'ah.

Dengan terbitnya buku2 sesatyang dia tulis ini,kita Kaum ASWAJA mazhab Syafi'i di fitnah dan di adu domba dengan saudara2 kita kaum ASWAJA mazhab Hanbali,yang ia sebut dengan "Wahabi".

Dialah "Abu Salafy",yang juga bersembunyi di balik nama "Syaikh Idahram",padahal nama aslinya adalah MARHADI MUHAYYAR.

Buku2 yang penuh fitnah dan propaganda,membaca judulya saja terasa menjijikkan,saking bejad dan biadab nya penulisnya dalam berdusta dan memfitnah ummat Islam

Yang perlu di catat oleh kaum Muslimin:

Buku-buku ini BUKAN tulisan seorang Muslim Sunni, akan tetapi ia adalah Syi'ah (yang bertaqiyah seolah Sunni dan menyusup dalam tubuh Nahdhatul Ulama). nama samarannya 'Abu Salafy', padahal nama aslinya Marhadi Muhayyar. di dalam buku bangkainnya yg lain dia tampilkan namanya dengan 'Syaikh Idahram',itu sengaja dia balik dari dari nama aslinya 'Marhadi'.
INILAH HAKIKAT DUSTA SYI'AH DHOLALAH!!!

'Abu Salafy' alias 'Syaikh Idahram' alias Marhadi ini adalah orang Syi'ah yang lihai berdusta. dengan cara HALUS dan sungguh menipu ia memasukkan Agama Syi'ah-nya dalam buku2nya. di antaranya,dalam buku itu ia memaksa kaum Muslimin untuk meyakini adanya mazhab yang lima, yaitu Hanafi,Maliki,Syafi'i dan Hanbali, lalu ia tambahkan Mazhab Ja'fari.

Padahal seluruh 'Ulama kaum Muslimin ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) sepakat di atas satu keyakinan bahwa Mazhab Fiqih dalam Islam hanya Empat yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. kalaupun ada mazhab Lain misalnya seperti Mazhab Tsauri dan Zhahiri, namun mazhab ini sudah punah. Adapun yang ia sebut Mazhab Ja'fari adalah Mazhab Fiqih dalam Agama Syi'ah,tidak di kenal dalam Ajaran Islam ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jamaah).Betapapun Imam Ja'far sendiri bukanlah seorang Ahli Fiqih dan tidak pernah membangun Mazhab Fiqih sama sekali.

INILAH HAKIKAT KEDUSTAAN SYI'AH DHOLALAH SELANJUTNYA!!

INDIKASI YANG MEMBUKTIKAN DIA ADALAH SYI'AH:

Lihat dan renungi apa yang di wasiatkan oleh 'Ulama kita Hadhratusy Syaikh Kyai Haji Hasyim Asy'ari Rahimahullah (Ra'is 'Aam Nahdhatul Ulama),dalam kitabnya Qanun Asasi Li-Jam'iyyati Nahdhatil Ulama,beliau berkata,

((Madzhab yang paling benar dan cocok untuk di ikuti di akhir zaman ini adalah empat Madzhab, yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali (keempatnya Ahlussunnah Wal Jamaah). Selain empat Mazhab tersebut juga ada lagi Mazhab Syi’ah Imamiyyah (Ja'fariyah) dan Syi’ah Zaidiyyah,tapi keduanya adalah SESAT,tidak boleh mengikuti atau berpegangan dengan kata kata mereka)).
[Kitab Qanun Asasi halaman 9].

Kemudian,dalam bukunya tersebut,'Abu Salafy' alias 'Syaikh Idahram' alias Marhadi mencantumkan Rekomendasi dari Ustadz Kyai Haji Muhammad Arifin Ilham,Pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra entul Bogor,lalu ketika di tanya langsung ke Ust.Muhammad Arifin Ilham malah beliau menjawab dengan Kaget,"DEMI ALLAH SAYA TIDAK PERNAH MEMBERI SAMBUTAN ATAU REKOMENDASI KEPADA BUKU ITU, MEMBACANYA SAJA SAYA BELUM PERNAH, SAYA BERLEPAS DIRI DARI BUKU ITU, IA TELAH BERDUSTA ATAS NAMA SAYA".

Lihat lah kaum Muslimin Bagaimana ia berdusta.....

'Abu Salafy' alias 'Syaikh Idahram' alias Marhadi Muhayyar ini,dia adalah ORANG SYI'AH!!!

Wallaahi!!!
INDIKASI APALAGI YANG MEMBUKTIKAN KALAU DIA SYI'AH!!??

Tidak mungkin seorang Sunni ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) mengatakan bahwa tanah suci dalam Islam selain Makkah dan Madinah ada juga tanah suci yang lain,yaitu tanah Karbala di Iraq.
Demi Allah ini adalah DUSTA dan SESAT!!!

KAUM MUSLIMIN (Khususnya ASWAJA) di tipu & di kelabui mentah-mentah oleh dia!!!

Seluruh Kaum Muslimin ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) sepakat bahwa tanah suciummat Islam hanya ada tiga, yaitu: Masjidil Haram di kota Makkah, Masjid Nabawi di kota Madinah, dan Masjidil Aqsha di Palestina. Sebagaimana yang terdapat dalam Hadits2 Rasulullah...

Adapun Tanah Karbala di Iraq di mana tempat Husein Bin 'Ali Radhiyallahu'anhuma cucu Rasulullah Syahid,maka ini TIDAK TERMASUK TANAH SUCI. Akan tetapi itu merupakan padang pasir bersejarah yang menjadi saksi atas kebiadaban dan pengkhianatan orang-orang Syi'ah kepada Ahlul Bait 'Alaihim Salam hingga menyebabkan terbunuhnya Cucu tercinta Rasulullah,Husein Bin 'Ali,Radhiyaallaahu'anhu Wa Ardhah.

KESIMPULANNYA:

'Syaikh Idahram' yang bernama asli Marhadi Muhayyar ini,dia adalah seorang aktivis Syi'ah. dia bersembunyi di balik nama 'Abu Salafy' dengan menyusup di tengah-tengah Kaum Muslimin (khususnya NU) dan mengadu domba Kaum Muslimin lintas Mazhab. ia mengadu domba kaum Muslimin Mazhab Syafi'i yang di sebut ASWAJA dengan Kaum Muslimin mazhab Hanbali yang ia sebut 'Wahabi'.

Ia mengadu domba kaum Muslimin dengan cara menyusupkan 'Aqidah Syi'ah-nya dalam setiap kesempatan. Ia menghembuskan Fitnah kepada Kaum Muslimin Mazhab Hanbali dengan mengangkat Isu 'Wahabi'....

KENAPA SELALU ISU "WAHABI" YANG DIANGKAT???!!!

Dengan mengangkat isu 'Wahabi',maka Kaum Muslimin Mazhab Syafi'i (ASWAJA) akan tersibukkan dgn isu fiktif ini dan berpaling dari KESESATAN SYI'AH RAFIDHAH yang telah lama di peringatkan oleh tokoh mereka Kyai Haji Hasyim Asy'ari Rahimahullah. dan tanpa di sadari,Syi'ah ini sedang menyusup ke Ormas Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah,dua Organisasi besar Kaum Muslimin di Indonesia.

Padahal Ribuan massa yang menghancurkan dan membakar pesantren-pesantren Syi'ah di jawa timur,baik sampang,madura,atau jember,mereka adalah Ummat Islam kaum Nahdhiyyin (NU),BUKAN "Wahabi".!!!

Oleh karena itu WASPADALAH!!!!!!!!!!!

Terkait isu "Wahabi",maka cukuplah 'Ulama2 dan Tokoh2 Nasional kita di tanah air sebagai panutan.

Mari sejenak kita perhatikan apa yang di ceritakan oleh Prof.DR.Buya Hamka Rahimahullah tentang Kaum Muslimin Madzhab Hanbali yang di sebut 'Wahabi'.

Prof.DR.Buya Hamka berkata,

"Ketakutan Belanda itu bertambah lagi karena abad ke 19 sudah datang gerakan agama Islam militan langsung dari Makkah, menggerakkan umat Islam dan membangkitkan semangat Tauhid di alam Minangkabau.

Belanda yang lebih tahu daripada orang Minangkabau sendiri apa artinya Islam yang murni, karena mendapat advis dari ahli-ahli Orientalis tentang semangat Islam, melihat bahwa kemajuan gerakan Islam yang timbul di Padang Darat itu akan sangat berbahaya bagi rencananya menaklukkan seluruh Sumatera. Belanda telah mengetahui bahwa gerakan Wahabi di Tanah Arab yang telah menjalar ke Minangkabau itu bisa membakar hangus segala rencana penjajahan, bukan saja di Minangkabau, bahkan di seluruh Sumatera,bahkan di seluruh Nusantara ini.”

Gerakan "Wahabi" di ceritakan oleh Prof.DR.Buya Hamka sebagai gerakan Tauhid militan yang semangat mengumandangkan Jihad melawan penjajah hingga membuat gentar penjajah Belanda pada waktu itu.

Terakhir,Al-Habib KH.Ahmad Bin Zein Al-Kaff (Ketua PW NU Jember) berkata,"Wahabi itu adalah saudara kita,masih sama-sama Ahlus Sunnah.tapi kalau Syi'ah BUKAN".

Sedangkan Habib Mudhor Al-Hamid (Tokoh NU di Jawa Timur) mengatakan,"Syi'ah itu adalah Musuh Islam yang harus kita bumi hanguskan dari bumi pertiwi,mereka adalah Musuh Islam dan musuh Ahlul Bait".

[Abu Husain Ath-Thuwailibi - lppimakassar.com]

Senin, 22 Juni 2015

Ada Apa Dengan Star Academy?

Ada Apa Dengan Star Academy

Perlu kita ketahui bahwa : AKADEMI CALON BINTANG (STAR ACADEMY)

Star Academy itu semacam program TV untuk mencari bakat anak muda untuk menjadi bintang atau artis. Seperti sekarang yg banyak marak di TV negeri ini, Indonesia Idol, X Factor Indonesia, Indonesia Mencari Bakat, Rising Star, Dangdut Akademia, dan lain-lain. Banyak orang tua sangat bangga kalau anaknya bisa tampil di acara-acara itu, apalagi kalau sampai menjadi juara.

Dr. Malhom Akhnauf adalah penggagas program Sitar Akademia atau ‘Star Academy’ itu. Ia adalah seorang doktor berkebangsaan Israel (Yahudi-pen).

Inilah wawancara singkat dengannya dalam acara Interview Channel Israel.

Pertanyaan: Bagaimana perasaan Anda saat ini, ketika obsesi terbesar Anda, yaitu ‘STAR ACADEMY’ benar-benar telah menjadi kenyataan di pusat negeri-negeri Islam?”

Jawab: Perasaan saya tidak bisa saya lukiskan, yang jelas kami telah menghabiskan sebagian besar umur kami – demi melangsungkan program tsb - hingga pada akhirnya, kami berhasil mewujudkan tujuan ini!

Pertanyaan: Apa yang Anda maksud bahwa itu telah menghabiskan sebagian besar umur kami?

Jawab: Iya benar. Kami memang telah menggarap program ini selama bertahun-tahun, hingga kemudian kami berhasil mengokohkan acara ini di negara-negara Barat, lalu meluas ke negeri-negeri Arab. Dan kami meyakini bahwa sesungguhnya program ini akan terus mengalami perkembangan dan kemajuan hingga sampai pada puncak keberhasilannya, seiring dengan perjalanan Negara Israel.

Pertanyaan: Kenapa Anda sangat yakin bahwa program ini pasti berhasil?

Jawab: Karena sungguh kami mengetahui bahwa umat Islam saat ini telah dijauhkan dari agamanya, tetapi pada saat yang sama para pemuda Muslim kini memiliki kecenderungan berpegang kepada Islam, yang sekiranya hal ini dibiarkan, niscaya suatu saat mereka akan menghancurkan negara kita!

Pertanyaan: Mengapa Anda begitu berhasrat unutk menjadikan program Star Academy ini sebagai sarana untuk menghancurkan umat Islam?

Jawab: Karena kami hendak MENJAUHKAN MEREKA DARI AGAMANYA.

Pertanyaan: Apa strategi Anda saat ini untuk menyerang umat Islam, khususnya setelah program Star Academy?

Jawab: Mengingat berbagai macam tantangan dan hambatan yang ada, maka kami merancang untuk secara khusus mentargetkan para generasi muda MUSLIMAH!

Pertanyaan: Mengapa harus generasi muda perempuan Muslimah dan bukan yang kalangan laki-laki?

Jawab: KARENA KAMI MENYAKINI BAHWA, APABILA PARA GENERASI MUDA MUSLIMAH MEREKA SUDAH MENGALAMI PENYIMPANGAN, MAKA PASTI SELURUH GENERASI MUSLIM AKAN IKUT TERSIMPANGKAN.

Pertanyaan sekali lagi: 
Bagaimana Anda menjelaskan peperangan Anda terhadap para perempuan Muslimah ini?

Jawab: Saat ini, kami sangat bernafsu untuk memerangi kaum Muslimah sekaligus merusak kehidupan mereka, baik secara mental, pemikiran, maupun secara fisik melebihi hasrat kami mempunyai peralatan tempur yang hebat seperti tank-tank, serta pesawat-peswat tempur. Dan kami gembira bahwa mereka pun telah tersibukkan dengan adanya smartphone Blackberry - dengan berbagai fasilitasnya – dan yang sejenis, dan ini merupakan bagian dari strategi tersebut.

Pertanyaan: Apakah Anda memiliki pengaruh dan kekuasaan terhadap program Star Academy yang saat ini tengah tayang di Lebanon?

Jawab: Kami yakinkan bahwa kami telah menggelontorkan sejumlah dana yang sangat besar dan hal tersebut senantiasa tidak lepas dari pengawasan kami.

Pertanyaan: Terakhir, apa yang Anda hendak katakan kepada bangsa kita, bangsa Israel, sebagai kabar gembira buat mereka?

Jawab: SIBUKKANLAH TERUS UMAT ISLAM YANG KINI MASIH TERTIDUR LELAP, KARENA SUNGGUH MEREKA ADALAH UMAT YANG JIKA MEREKA TELAH PULIH DAN BANGKIT, NISCAYA DALAM HITUNGAN BEBERAPA TAHUN SAJA, MEREKA PASTI DAPAT MERAIH KEMBALI KEMULIAANNYA, YANG TELAH TERENGGUT SELAMA BEBERAPA ABAD

(Selesai)

Cukuplah Allah sebagai penolong dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.

Sebarkanlah pesan ini kepada umat Islam, umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, semoga mereka kembali bangkit dari tidurnya, 

Allah memberkahi Anda dan Keluarga.. amien..

(Buku Ghozul fikri) Kiriman dari Ustadz Lalu Muhammad Hafifi Hafizohullah

Minggu, 21 Juni 2015

Ali Mustafa Ya'qub: Jaringan Islam Nusantara atau JIN Beneran?

JIN : Jaringan Islam Nusantara atau Jin Beneran?

Wawancara KH. Ali Mustafa Ya’qub Rais Syuriah Bidang Fatwa PBNU Seputar "Islam  Nusantara"

Alhamdulillah, Jejakislam.net mendapat kesempatan berbincang dengan Prof.Dr.KH. Ali Mustafa Ya’qub, Rais Syuriah Bidang Fatwa 2010-2015 Pengurus Besar Nadhlatul ‘Ulama (PBNU) dan Imam Besar Masjid Istiqlal.

Kami hendak melihat kaitan antara Islam dan Nusantara, dan persoalan hangat lainnya, dari sudut pandang seorang ulama di Indonesia. Meski beberapa pembicaraan, sedikit keluar dari topik sejarah, namun besar manfaat yang dapat diperoleh sebagai cermin untuk menapak di masa kini.

Berikut perbincangan penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), Andi Ryansyah dengan Prof.Dr.KH. Ali Mustafa Ya’qub, Jum’at (19/6/2015) di ruang Imam Besar Masjid Istiqlal.

Bagaimana pandangan Pak Kiai tentang istilah “Islam Nusantara”?

Kalau “Islam Nusantara” itu Islam di Nusantara, maka tepat. Kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bercorak budaya Nusantara, dengan catatan: selama budaya Nusantara itu tidak bertentangan dengan Islam, maka itu juga tepat. Namun kalau “Islam Nusantara” itu Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, maka itu tidak tepat. Sebab sumber agama Islam itu Al-Qur’an dan Hadits. Apa yang datang dari Nabi Muhammad itu ada dua hal yaitu agama dan budaya. Yang wajib kita ikuti adalah agama: aqidah dan ibadah. Itu wajib, tidak bisa ditawar lagi. Tapi kalau budaya, kita boleh ikuti dan boleh juga tidak diikuti. Contoh budaya: Nabi pakai sorban, naik unta, dan makan roti. Demikian pula budaya Nusantara. Selama budaya Nusantara tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka boleh diikuti. Saya pakai sarung itu budaya Nusantara dan itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Shalat pakai koteka itu juga budaya Nusantara, tapi itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka itu tidak boleh. Jadi harus dibedakan antara agama dan budaya

Tadi Pak Kiai menyatakan Islam yang bercorak budaya Nusantara itu tepat, padahal Pak Kiai tadi juga menyatakan sumber agama Islam bukan dari apa yang ada di Nusantara, jadi maksudnya apa Pak Kiai?

Maksud saya, Islam yang bercorak budaya Nusantara itu boleh saja sepanjang tidak bertentangan dengan Islam. Tapi kalau Islam yang bersumber dari apa yang ada di Nusantara, baik aqidah maupun ibadah harus asli dari Nusantara, maka itu tidak tepat. Tapi saya katakan Islam itu bukan Arab sentris. Islam itu apa kata Al-Qur’an dan Hadits, bukan Arab sentris. Tidak semua budaya Arab harus kita ambil. Sebab ada budaya Arab yang bertentangan dengan ajaran Islam. Contohnya, orang- orang minum khamr di zaman Nabi dan beristri lebih dari empat. Tadi saya katakan, Nabi pakai sorban, apa kita wajib pakai sorban? Tidak ada hadits yang menunjukkan keutamaan memakai sorban. Tidak ada hadits yang mengatakan memakai sorban itu mendapat pahala. Para ulama mengatakan sorban itu budaya Nabi, budaya kaum Nabi pada zamannya.

Pak Kiai bagaimana sebaiknya umat Islam memandang budaya?

Sepanjang budaya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka kita boleh mengambilnya. Ini masuk wilayah muamalah. Silakan ikuti budaya Arab, silakan pakai sorban. Tapi jangan mengatakan orang yang tidak pakai sorban, tidak mengikuti Nabi. Saya pukul kalau ada orang yang mengatakan seperti itu. Silakan makan roti karena mengikuti budaya Nabi. Tapi jangan mengatakan orang yang makan nasi, tidak mengikuti Nabi. Demikian juga budaya Nusantara. Sepanjang budaya Nusantara tidak bertentangan dengan Islam, silakan ambil. Islam sangat memberikan peluang bagi budaya, selama budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, boleh kita ambil. Silakan berkreasi dan ambil budaya apapun, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam

Kemunculan “Islam Nusantara” ini membuat sebagian orang membandingkan dengan “Islam Arab”, bagaimana menurut Pak Kiai?

Saya tidak sependapat dengan bandingan-bandingan seperti itu. Islam itu Islam saja.

Jadi istilah “Islam Nusantara” itu tidak ada ya Pak Kiai?

Ya, Islam itu agama. Nusantara itu budaya. Tidak bisa disatukan antara agama dan budaya.

Selanjutnya mengenai NU dan “Wahabi”. Bagaimana pertentangan NU dan “Wahabi” antara tahun 20an sampai sekarang. Karena seperti diketahui, dulu di Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) mereka bisa akur?

Saya mengatakan tidak ada pertentangan antara NU dan “Wahabi”. Yang ada adalah perbedaan antara ulama-ulama sumber rujukan NU dengan ulama-ulama sumber rujukan “Wahabi”. Perbedaan ini ada jauh sebelum  NU dan “Wahabi” lahir. Jangankan NU dan “Wahabi”, Imam Syafi’i yang hanya satu orang, bisa berbeda pendapat ketika berada di Baghdad dan Mesir. Antara ulama-ulama mazhab Syafi’i juga bisa berbeda pendapat. Tapi perbedaan itu tidak akan keluar dari dua karakter, pertama, tidak menyebabkan kekafiran dan kedua, perbedaan itu sudah ada sebelum NU dan “Wahabi” ada. Jadi tidak perlu dipermasalahkan. Kalau ada yang mengatakan “Wahabi” itu suka mengkafirkan dan membid’ahkan , maka itu fitnah. Saya belajar “Wahabi” 9 tahun. Di dalam kitab-kitab “Wahabi” tidak ada yang menyatakan selain kelompok “Wahabi” itu kafir. Itu fitnah untuk mengadu domba NU dan “Wahabi”. Dan yang memfitnah itu adalah agen zionis. Kalau ada yang mengatakan Tuhannya bukan Allah, baru itu kafir.

Bagaimana pandangan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari tentang “Wahabi”?

Ketika itu, istilah yang lazim bukan “Wahabi” tapi salafi atau taimi. Banyak pandangan beliau yang sama dengan “Wahabi”. Kitab-kitab beliau banyak merujuk pada kitab-kitab Imam  Ibnu Taimiyyah. Imam Ibnu Taimiyyah itu rujukannya “Wahabi”. Tapi kata beliau, “Banyak salafi-salafi yang palsu.” Palsu karena tidak mengikuti ajaran Imam Ibnu Taimiyyah. Contohnya, mereka menilai orang-orang yang bertawasul dengan nama Nabi Muhammad itu misalnya musyrik atau kafir. Padahal Imam Ibnu Taimiyyah membolehkan itu.

Tentang kitab-kitab ulama di pesantren, kitab apa saja yang dipakai? Apa ada kitab ulama lokal? Sewaktu Saya di pesantren Tebu Ireng, kitab ilmu hadits karya Kiai Mahfudz itu dipelajari. Ulama-ulama lokal seperti Kiai Mahfud Termas asal Pacitan dan Kiai Nawawi asal Banten, juga menulis kitab, tapi menulisnya di Mekkah. Bisa jadi Kiai Hasyim ‘Asyari menulis kitabnya di Mekkah karena beliau pernah tinggal di sana.

Terakhir, apa nasihat Pak Kiai untuk umat Islam di tengah polemik isu “Islam Nusantara” serta NU dan “Wahabi”?

Pertama, kita harus membedakan antara agama dan budaya. Agama: aqidah dan syariah, kita harus mengikuti Rasulullah. Sementara, budaya itu masuk muamalah. Budaya apa pun, termasuk budaya Arab selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, silakan. Tapi hati-hati, sebab bisa saja orang pakai sorban itu dalam rangka mencari popularitas. Ketika semua orang tidak pakai sorban, tapi ada 1 orang pakai sorban, maka itu diharamkan dalam Islam karena sorban itu menjadi pakaian popularitas. Menurut seorang Ulama Arab, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan, hal itu menunjukkan kesombongan. Penampilan itu menunjukkan seorang merasa lebih mirip nabi. Itu arogan dan tidak bagus. Kedua, NU dan “Wahabi” tidak ada pertentangan, yang ada perbedaan. Persamaannya banyak dan perbedaannya sedikit. Perbedaannya itu tidak menimbulkan kekafiran dan perbedaan itu tidak terjadi setelah NU dan “Wahabi” ada. Jadi perbedaannya hanya dalam hal furu’iyyah, bukan hal yang prinsip.

Sumber: Jejakislam.com