Tampilkan postingan dengan label Tokoh atau Ulama' Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh atau Ulama' Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Agustus 2015

Kejujuran Imam Syafi'i

Kejujuran Al-Imam Asy-Syafi'i -Rohimahullah

Imam asy-Syafi'i rahimahullah sebelum berangkat belajar ke Madinah belajar kepada Imam Malik rahimahullah, beliau berkata Ibu nya:

"Wahai ibu, berilah saya nasehat !"

Ibunya berkata :

"Wahai anak ku, berjanjilah kepada ku untuk tidak berdusta."

Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata :

"Saya berjanji kepada Allah lalu kepada mu untuk tidak berdusta."

Beliau waktu usia nya masih kecil, dibekali oleh ibu nya uang 400 dirham.. Beliau menaiki hewan tunggangan nya dan keluar bersama rombongan menuju Madinah, Imam asy-Syafi menyimpan uang itu didalam sebuah kantong yang ia jahit disela - sela bajunya..

Ditengah - tengah perjalanan ada rampok yang merampas seluruh harta rombongan tersebut, tatkala sampai dihadapan Imam asy-Syafi'i yang masih kecil, para perampok itu bertanya :

"Apakah kamu membawa uang ??"

Imam asy-Syafi'i yang masih kecil ini menjawab :

"Iya..."

Perampok :

"Berapa ??"

Asy-Syafi'i :

"Saya membawa uang 400 dirham."

Para perampok tersebut tertawa sambil mengejek beliau dan berkata:

"Pergilah, apakah kamu hendak mengolok - olok kami ??" Pergilah sana. Apakah orang seperti mu membawa uang sebanyak empat ratus dirham ??" (kata para perampok dengan tidak percaya).

Kemudian asy-Syafi'i berhenti disamping rombongan kafilah yang dirampok. Pemimpin rampok berkata kepada anak buah nya :

"Apakah kalian telah mengambil semuanya ??"

Mereka menjawab :

"Iya"

Pemimpin rampok :

"Apakah kalian tidak meninggalkan seorang pun..??"

Mereka (anak buah) menjawab :

"Tidak, kecuali seorang anak kecil yang mengaku telah membawa uang sebanyak 400 dirham, namun anak tersebut gila atau hanya ingin mengolok - olok kita, sehingga kami pun menyuruhnya pergi."

Pemimpin rampok berkata :

"Bawa anak itu kemari."

Mereka pun membawa Syafi'i kecil. Kemudian pemimpin rampok itu bertanya kepada beliau :

"Apakah kamu membawa uang, wahai anak kecil..??"

Syafi'i kecil menjawab :

"iya"

Pemimpin Rampok berkata :

"Berapa uang yang kamu bawa??"

Syafi'i kecil :

"Empat ratus dirham."

Pemimpin perampok itu bertanya lagi:

"Dimana uang itu..??"

Lalu Syafi'i kecil mengeluarkan uang tersebut dari balik pakian nya dan menyerahkan nya kepada pemimpin kawanan perampok tersebut..

Pemimpin rampok itu menuangkan uang - uang tersebut kepangkuan nya, lalu ia memandangi syafi'i kecil dengan keheranan dan berkata :

"Kenapa kamu jujur kepada ku ketika aku tadi bertanya kepada mu, dan kamu tidak berdusta kepadaku, padahal kamu tahu bahwa uang mu akan hilang..??"

Syafi'i pun menjawab :

"Saya jujur kepada mu karena saya telah berjanji kepada ibu ku untuk tidak berdusta kepada siapa pun."

Mendengar penuturan Syafi'i kecil itu, tiba - tiba tangan pemimpin rampok itu berhenti memain - mainkan uang 400 dirham tersebut, karena hatinya telah bergetar karena hidayah dari Allah..

Lalu pemimpin rampok itu berkata sambil mengembalikan uang tersebut kepada Syafi'i kecil :

"Ambillah uangmu, kamu takut untuk mengkhianati janji mu kepada ibu mu, sedangkan aku tidak takut berkhianat kepada janji Allah Subhanhu wa ta'ala..?? Pergilah, wahai anak kecil dalam keadaan aman dan tenang, karena aku telah bertaubat kepada Zat yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang melalui kedua tangan mu dengan taubat ini dan aku tidak akan pernah mendurhakai-Nyalagi selamanya."

Kemudian pemimpin kawanan perampok itu memandang anak buahnya dan berkata :

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerima nya..." [Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 58].

Lalu anak buahnya berkata sambil membawa harta dan berbagai perhiasan rombongan kafilah yang mereka rampok tadi dan mengembalikan nya, dan mereka berkata kepada pemimpin mereka :

"Wahai tuan kami, anda telah bertaubat dengan Zat Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang, sedangkan anda adalah pemimpin kami. Oleh karena itu kami lebih pantas untuk bertaubat daripada anda."

Akhirnya mereka semua bertaubat kepada Allah, lewat kejujuran Imam asy-Syafi'i kecil..

[Diringkas dan disadur dari buku Biografi Imam Syafi'i hal 17-20, Abdul Aziz asy-Syinawi. Judul aslinya Al-Aimmah Al-Arba'ah Hayatuhum Mawaqifuhum Ara'ahum Qadhiyusy Syariah al-Imam asy-Syafi'i]

Nama dan Tahun Wafat Pembesar Islam

Nama & Tahun Wafat Pembesar Islam

1. Rasulullah Muhammad bin 'Abdillah -sallallahu 'alaihi wasallam (10 hijriyyah)

2. Abu Bakr As-Shiddiq -Radiallahu 'Anhu- [Kholifah Ke-1 Islam] (13 Hijriyyah)

3. 'Umar bin Al-Khottob Abu Hafs Al-Faaruq -Radiallahu 'Anhu- [Kholifah Ke-2 Islam] (23 Hijriyyah)

4. 'Utsman bin 'Affan Adz-Dzunnurain -Rodiallahu 'anhu- [Kholifah Ke-3 Islam] (35 Hijriyyah)

5. 'Ali bin Abi Tholib -Radiallahu 'Anhu- [Kolifah ke-4 Islam] (40 Hijriyyah)

6. 'Aaisyah binti Abu Bakar -Radiallahu 'Anhuma- (57 Hijriyyah)

7. 'Abdullah bin 'Abbas -Radiallahu 'Anhuma- (68 Hijriyyah)

8. Abdullah bin 'Umar -Radiallahu 'Anhuma- (73 Hijriyyah)

9. Sa'id bin Al-Musayyib -Rahimahullah- (94 Hijriyyah)

10. 'Umar bin 'Abdul 'Aziz -Rahimahullah-
(101  Hijriyyah)

11. Hasan Al-Bashri -Rahimahullah- (110 Hijriyyah)

12. Imam Abu Hanifah -Rahimahullah- (150 Hijriyyah)

13. Imam Maalik bun Anas -Rahumahullah- (179 Hijriyyah)

14. Imam Syafi'i -Rahimahullah- (204 Hijriyyah)

15. Ibnu Rohawaih -Rahimahullah- (238 Hijriyyah)

16. Imam Ahmad bin Hanbal -Rahimahullah- (241 Hijriyyah)

17. Ahmad bin Sa'Id Ad-Daarimi -Rahimahullah- (253 Hijriyyah)

18. Abdullah bin Abdurrohman Ad-Daarimi -Rahimahullah- (255 Hijriyyah)

19. Imam Al-Bukhori -Rahimahullah- [Pengarang Kitab Shoheh Bukhori] (256 Hijriyyah)

20. Imam Muslim -Rahimahullah- [Pengarang Kitab Shoheh Muslim] (261 Hijriyyah)

21. Ibnu Majah -Rahimahullah- [Pengarang Kitab Sunan Ibnu Majah] (273 Hijriyyah)

22. Abu Daaud -Rahimahullah- [Pengarang Kitab Sunan Abi Daaud] (275 Hijriyyah)

23. Imam At-Tirmizi -Rahimahullah- [Pengarang Kirab Sunan Tirmizi] (279 Hijriyyah)

24. 'Utsman bin Sa'id Ad-Daarimi -Rahimahullah- (280 Hijriyyah)

25. Imam An-Nasaa'i -Rahimahullah- [Pengarang Kitab Sunan Nasaa'i] (303 Hijriyyah)

26. Imam Tobrooni -Rohimahullah- (310 Hijriyyah)

27. Ibnu Huzaimah -Rahimahullah- (311 Hijriyyah)

28. Ibnu Hibban -Rahimahullah- (354 Hijriyyah)

29. Ad-Daarquthni -Rahimahullah- (385 Hijriyyah)

30 Al-Haakim -Rahimahullah- (405 Hijriyyah)

31. Ibnu Hazm Az-Zohiri -Rahimahullah- (456 Hinjriyyah)

32. Al-Baihaqi -Rahimahullah- (458 Hijriyyah)

33. Ibnu 'Abdil Bar -Rahimahullah- (463 Hijriyyah)

34. Al-Khithib Al-Bagdaadi -Rahimahullah- (463 Hijriyyah)

35. Ibnu Al-'Arobi -Rahimahullah- (543 Hijriyyah)

36. Ibnu Rosyid Al-Hafiid -Rahimahullah- (595 Hijriyyah)

37. Ibnul Jauzi -Rahimahullah- (597 Hijriyyah)

38. Al-Qurthubi -Rahimahullah- [Pengarang Kitab Tafsiir Al-Jaami' Li Ahkaam Al-Qur'an] (671 Hijriyyah)

39. Imam An-Nawawi Asy-Syaafi'i -Rahimahullah- (676 Hijriyyah)

40. Syakhul Islam Ibnu Taimiyyah -Rahimahullah- (728 Hijriyyah)

41. Imam Adz-Dzahabi -Rahimahullah- (748 Hijriyyah)

42. Ibnul Qoyyim -Rahimahullah- (751 Hijriyyah)

43. Ibnu Kaatsir -Rahimahullah- [Pengarang Kitab Tafsur Ibnu Katsir] (774 Hijriyyah)

44. Ibnu Rojab -Rahimahullah- (795 Hijriyyah)

45. Ibnu Hajar Al-'Asqolaani -Rahimahullah- (852 Hijriyyah)

46. As-Suyuthi -Rahimahullah- (911 Hijriyyah)

47. As-Son'aani -Rahimahullah- (1182 Hijriyyah)

48. Muhammad bin Abdil Wahhab -Rahimahullah- (1206 Hujriyyah)

49. Asy-Syaukaani -Rahimahullah- (1250 Hijriyyah)

50. Al-Aluusi -Rahimahullah- (1342 Hijriyyah)

51. Ibnu Sa'di -Rahimahullah- (1376 Hijriyyah)

52. Asy-Syinqithi -Rahimahullah- (1393 Hijriyyah)

53. Ibnu Baaz -Rahimahullah- (1419 Hijriyya)

54. Al-Albaani -Rahimahullah- (1420 Hijriyyah)

55. Ibnu 'Utsaimiin -Rahumahullah- (1421 Hijriyyah)

Ini sebagian sebagian diantara nama & tahun wafat pembesar-pembesar Islam yang telah mengukir prestasi didunia islam. Semoga bermanfaat dan kita termasuk orang-orang yang meniti jejak mereka dan mengambil ilmu dari mereka.

Bekasi, 23 Rabi'ul Akhir 1437 H.

Senin, 15 Juni 2015

Syaikh Prof. Dr. Anis bin Ahmad Thahir hafizohullah

Syaikh Prof. Dr. Anis bin Ahmad Thahir Jamal Al Andunisy yang aku kenal

Aqiidah.. aqiidah... aqiidah.... Prioritaskan aqidah..Kata-kata itu tak pernah lepas dari mulut beliau bila bertemu dengan kami.

Setiap ada buku maupun risalah baru yangberkaitan dengan masaalah aqidah beliau tak lupa berbagi dengan kami dan kawan lainnya yang biasa hadir dimajelis beliau.

Namun setiap kali  giliran saya menerima buku, tak lupa beliau berpesan, "negerimu membutuhkan ini".

Syaikh -hafidzahullah- memang memberi perhatian lebih terhadap masaalah akidah. Bila sudah berbicara masaalah aqidah beliau -hafidzahullah- tak suka neko-neko.

Kalau sebagian pengajar di masjid nabawi lebih sering menggunakan kinayah saat menyindir agama syi'ah, maka syaikh -hafidzahullah-  memilih untuk terang-terangan tanpa sedikitpun rasa takut.

Padahal tak sedikit syiah yang berkeliaran di masjid nabawi, hal itu tentunya mengancam keselamatan syaikh.Keberanian itulah yang membuat beliau berbeda.

Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily bahkan pernah mengungkapkan kekagumannya pada syaikh Anis.

Syaikh Ibrahim mengatakan, "Dalam beberapa mawaaqif aku tak pernah melihat orang yang ghirahnya terhadap sunnah seperti beliau. Aku tak pernah melihat orang yang lebih berani terang-terangan dalam persoalan aqidah seperti beliau. Jujur, aku tidak bisa seberani itu."

Soal keberanian dalam menyampaikan yang hak, Syaikh Anis selalu mengatakan,"Untuk apa takut. Rasa takut tak akan menambah umur atau mempercepat kematian.

Akhir cerita dari orang yang berani dan orang yang takut adalah terkubur dibawah tanah yang sama".

Sisi lain yang saya kagumi dari Syaikh adalah sikapnya yang selalu terbuka dan apa adanya.

Akhlaknya bukan akhlak yang basa-basi, yang kadang muncul pada satu keadaan namun hilang pada keadaan yang lain.

Di majelis ataupun dimana saja beliau menyempatkan diri untuk bersenda gurau disertai sedikit tawa untuk menyegarkan suasana.

Meskipun demikian, kewibawaannya tetap terpancar dalam performa yang luhur. Disinilah keunikan beliau.

Kepribadiannya dibentuk oleh ilmu yang dimilikinya, sama sekali tidak dibuat-buat. Itulah yang membuatnya berbeda.

Berikut ini adalah biografi ringakas Prof. DR. Anis Thahir Al Andunisy -hafidzahullah-

Prof. DR. Anis Thahir dilahirkan di Makkah Al-Mukarramah pada tanggal 1 Rajab 1378H. Beliau merupakan anak seorang perantau asal Indonesia -Ayah berdarah lampung ibu berdarah semarang jawa tengah- yang telah bermukim di kota makkah.

Di tempat kelahirannya itu beliau menghabiskan masa kecilnya untuk menuntut ilmu di majelis para ulama.

Masa-masa itulah yang kemudian terus membekas dalam ingatannya, sehingga tak jarang beliau menceritakannya potongan demi potongan kisah itu kepada kami.

Peranan Orang Tua
---------------------------
Sejak dulu kesuksesan salafus sholeh tak lepas dari peran orang tua  yang selalu berada dibalik kesuksesan tersebut, tentunya setelah taufiq dari Allah azza wa jalla. Begitupula dengan syaikh.

Kedua orang tuanya sangat memperhatikan pendidikan buah hatinya sejak kecil, terutama sang ibu. Dalam beberapa majelis beliau menceritakan pada kami tentang perhatian ibunya yang begitu besar semasa beliau menuntut ilmu dulu.

Rihlah Dalam Menuntut IlmuMemasuki usia remaja beliau melanjutkanperjalanannya dalam menuntut ilmu ke tanah hijrah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,  Madinah An-Nabawiyah. Disana beliau bertemu dengan banyak ulama dari berbagai negara.

Untuk pendidikan formal pilihannya jatuh pada Islamic University of Madinah. Di almamaternya ini beliau berhasil menyelesaikan program S1, S2, hingga S3 di bidang As-Sunnah. Desertasi doktoralnya meraih peringkat summa cumlaude.

Dosen pembimbingnya kala itu adalah seorang pakar hadits di kota Madinah, As-Syaikh Al Allamah Hammad bin Muhammad Al Anshary -rahimahullah-.

Sejak menjadi mahasiswa bimbingan syaikh Hammad Al-Anshary kedekatan diantara keduanya -sebagai guru dan murid- terus berlanjut hingga Syaikh Hammad meninggal dunia pada hari Rabu 21 Jumadil Akhir 1418 H. Selama dalam bimbingan Syaikh Hammad, Syaikh Anis tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk meraih sebanyak-banyaknya faidah ilmu dari sang dosen yang sekaligus sebagai pembimbingnya itu.

Masa-masa bersama inilah yang terus dikenang syaikh dalam majelisnya.

Bahkan dari semua gurunya, syaikh Hammadlah yang paling banyak memberikan kontribusi dalam hal pembentukan syakhsiyah ilmiahbeliau.

Pada akhir tahun 1433 H yang lalu Syaikh Anis ditetapkan sebagai guru besar dibidang ilmu hadits.

Kini disela-sela kesibukannya sebagai dosen dan pengajar di masjid nabawi, beliau juga aktif sebagai anggota pada beberapa lembaga pengkajian di dalam dan luar kampus yang berkonsentrasi dibidang As-Sunnah.

Beliau juga sering diundang sebagai pembicara pada seminar-seminar umum yang diadakan baik di dalam maupun diluar negeri.Guru-guru beliau.

Seorang penuntut ilmu hendaknya menimba ilmu secara langsung dari para ulama. Hal ini sudah menjadi tradisi dikalangan salafussholeh.

Bagi mereka belajar tanpa guru sangat dekat dengan kesesatan, mereka bahkan menilainya aib.Sebagian diantara mereka melarang para muridnya untuk menimba ilmu dari oang yang menjadikan buku sebagai gurunya.

Berguru pada ulama besar itulah yang dilakukan syaikh sebagaimana pendahulunya.

Diantara guru-guru beliau adalah:

- Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshary -rahimahullah
-Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah
-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany -rahimahullah
- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Banna -hafidzahullah
-Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin -rahimahullah
-Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad -hafidzahullah
-Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairy -hafidzahullah
-Syaikh Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar As-Syinqity -rahimahullah
-Syaikh Abdul Fattah Ibrahim Salamah
- Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi'iy -rahimahullah
-Syaikh Abdul Fattah Al MirshafySyaikh Abdul Qadir As-Sindy
- Syaikh Muhammad Aman Al-Jaamy -rahimahullah
-Syaikh Ali Abdurrahman Al-Hudzaify -hafidzahullah
-Dan masih banyak lagi.

Beliau juga mendapatkan banyak Ijazah dari ulama-ulama ternama dalam berbagai disiplin ilmu.

Satu hal lagi yang membuat kami terkesima dengan akhlak beliau, adalah sifatnya yang sangat menghormati guru-gurunya.

Bahkan pada awal-awal ditetapkan sebagai pengajar di masjid nabawi beliau merasa tidak pantas untuk duduk menyampaikan ilmu di masjid itu disaat guru-guru beliau sedang memberi pelajaran, apalagi bila waktunya bersamaan.

Beliau pernah berkata,"Semoga Allah mengampuni kelancangan ini, sejujurnya kami tidak pantas duduk diatas kursi ini disaat guru-guru kami juga duduk pada kursi yang sama di majelis yang lain, sungguh ini sebuah kelancangan"

Karya tulis beliau:

Beliau -hafidzahullah- termasuk dosen yang produktif dalam menghasilkan berbagai karya baik dalam bentuk buku atau risalah kecil berupa makalah ilmiah.

Diantara karya tulis beliau adalah:
1. Dhawabit Muhimmah lihusni fahmi as-sunnah.
2. At-Tadzkir bisunan al-mahjuurah.
3. Nubdzah Mukhtasharoh an as-sunnah al-muthahharah.
4. Shahih Syamail Al Muhammadiyah.
5. Takhrij Hadits Thala'al badru alaina.
6. Hadyunnabi fi khutbatil jumu'ah.
7. Mustakhraj At Thusy ala jami' At Tirmidzy.
8. Al Bayan wa at-tafshil fidirasah al kutub al jarh wa at-ta'dil.
Dan masih banyak lagi, sebagian telah dicetak dan sebagian lagi belum dicetak.

Syaikh hafidzahullah sangat mencintai dunia tahqiq, hampir seluruh karyanya dibidang tahqiq, baik tahqiq masaail ataupun tahqiq manuskrip.

Diantara Ucapan Beliau:

"Penisbatan kita terhadap salafus sholeh tidak akan berarti apa-apa jika mereka para salafussholeh berada di satu lembah, sementara kit yang mengaku pengikut salaf berada di lebah yang lain."

"Dakwah salaf itu bukan istana yang memiliki benteng dan penjaga. Sehingga siapa saja yang mau masuk harus laporan dulu kepada pengawal dan boleh dikeluarkan dengan seenaknya saja".

Pada kesempatan yang lain beliau berkata:

"Innalillah.... Seakan-akan dakwah salafiyah ini seperti perusahaan dimana direkturnya memliki otoritas penuh dalam memasukkan atau mengeluarkan seseorang dari perusahaannya".

"Sebagian orang menganggap bahwa kewibawaan itu dengan bermuka masam..

Ketahuilah...

manusia yang paling mulia dan paling berwibawa selalu menyebarkan senyum dan salam pada siapa saja"

Semoga Allah senantiasa menjaga syaikh -hafidzahullah-

Selesai

Oleh Ustadz Aan Chandra Tholib Hafizohullah