Tampilkan postingan dengan label Berbagi Pengalama tuk Ibroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Pengalama tuk Ibroh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Maret 2015

Persembahan Buat Ayah dan Bunda

Persembahan Buat Ayah dan Bunda

Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ… Sehabis meeting dengan salah satu calon investor di lantai 27, saya buru2 turun ke masjid karena takut terlambat..dan bener aja sampai di masjid adzan sudah berkumandang…

Karena terlambat saya jadi tidak tau siapa nama Khotibnya saat itu.. sambil mendengarkan khotbah saya melihat Sang Khotib dari layar lebar yg di pasang di luar ruangan utama masjid.. Khotibnya masih muda, tampan, berjenggot namun penampilannya bersih..dari wajahnya saya melihat aura kecerdasan..tutur katanya lembut namun tegas…dari penampilannya yg menarik tsb..saya jadi penasaran..apa kira2 isi khotbahnya…

Ternyata betul dugaan saya!!!…isi ceramah dan cara menyampaikannya membuat jamaah larut dalam keharuan..banyak yg mengucurkan air mata (termasuk saya)..bahkan ada yg sampai tersedu sedan... Weleh2..sampai segitunya ya..lalu apa sih isi ceramahnya..koq kayaknya amazing bingitzz…

Dengan gaya yg menarik Sang Khotib menceritakan “true story”..seorang anak berumur 10 th namanya Umar..dia anak pengusaha sukses yg kaya raya.. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta..tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal..tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah..wong uangnya berlimpah… Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang..agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya...

Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.. “Waduuuh saya sibuk ma..kamu aja deh yg datang..” begitu ucap si ayah kpd isterinya..bagi dia acara beginian sangat nggak penting..dibanding urusan bisnis besarnya.. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam..sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya..dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya..sedang anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya…

Nah karena diancam isterinya..akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah2an.. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya.. Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang..sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yg akan tampil di panggung…

Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2..ada yg menyanyi..menari..membaca puisi..pantomim..ada pula yg pamerkan lukisannya..dll.. Semua mendapat applause yg gegap gempita dari ayah2 mereka…tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya..

“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief..” tanya si Umar kpd gurunya..pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu… ”Oh boleh..” begitu jawab gurunya..dan pak Ariefpun dipanggil ke panggung…

“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya…”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.. “Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yg salah..” lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan)..dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram)…

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu…termasuk ayah si Umar yg duduk dibelakang…”Stop..kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna..sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar… lalu Umarpun membaca ayat 9…”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief:“Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”..si Umarpun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai”...

“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya…para hadirin yg muslimpun tak kuasa menahan airmatanya… Lalu pak Arief bertanya kepada Umar:”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain..?” begitu tanya pak Arief penasaran…

Begini pak guru…waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak..bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah Sallallahu 'alaihiwasallam :”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)…

“Pak guru..saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak..sebagai seorang anak yg berbakti kpd kedua orangnya..” Semua orang terkesiap dan tdk bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb… Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengan teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yg lari dari belakang menuju ke panggung…

Ternyata dia ayah si Umar..yg dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak..bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.. ”Ampuun nak.. maafkan ayah yg selama ini tidak pernah memperhatikanmu..tdk pernah mendidikmu dengan ilmu agama..apalagi mengajarimu mengaji…” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya…” Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak…ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak…ayah maluuu nak" ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu2…subhanallah...

Sampai disini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yg mulai jatuh…semua jama’ahpun terpana..dan juga mulai meneteskan airmatanya..termasuk saya..diantara jama’ahpun bahkan ada yg tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya...luar biasa haru...

Entah apa yg ada dibenak jama’ah yg menangis itu..mungkin ada yg merasa berdosa karena menelantarkan anaknya..mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kpd anaknya.. mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya mengaji..atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya..dan semua..dengan alasan sibuk urusan dunia…!!!

Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akherat..dan lebih sibuk dengan urusan dunia..padahal saya tau kalau kehidupan akherat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, sendau gurau dan sangat singkat ini..seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-An'Amayat 32:”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”...

Astagfirullahal ghofururrohim..hamba mohon ampunan kepada Allah..Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang…

Wallahu ‘alam bissawab.. Semoga bermanfaat..khususnya buat saya pribadi…

Via: Bersama Dakwah

Kamis, 29 Januari 2015

Tawaddu'nya Syaikh Prof. DR. Abdurrozaq Hafizohullah

Sekedar berbagi cerita..

Ustadz Firanda Andirja (mahasiswa doktoral Univ Islam Madinah) bercerita tentang Syaikh Prof DR Abdurrazzaaq al-Abbad (professor Aqidah Univ Islam Madinah, pengasuh kajian ilmu di Masjid Nabawi).

Ustadz mengatakan bahwa beliau dan syaikh Abdurrazzaaq bersahabat sudah lama, kurang lebih 10 tahun...

Ustadz bercerita, bahwa syaikh Abdurazzaaq pernah berjihad di Afghanistan… beliau juga mengelola bantuan dari rakyat Saudi untuk mujahidin dan rakyat Afghan… akan tetapi ustadz tahu hal tersebut bukan dari syaikh Abdurrazzaaq, tapi dari syaikh lainnya di Madinah… syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah bercerita…

Ustadz juga mengatakan syaikh juga pernah berdakwah ke pedalaman Afrika, jauh dari nyamannya suasana tanah suci… akan tetapi, sekali lagi, ustadz tahu hal tersebut bukan dari syaikh Abdurrazzaaq, tapi dari syaikh lainnya di Madinah… syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah bercerita…

Syaikh Abdurrazzaaq pernah 2x datang ke Indonesia, mengisi kajian di Istiqlal, dan setiap kali datang masjid full seat, masjid Istiqlal penuh sampai lantai tertinggi (lt. 5 kalau gak salah), dgn peserta 100.000+ orang, dan divideokan (banyak di Youtube)…

Dan saat ustadz bercerita tentang hal tersebut di Madinah, syaikh lain di Madinah terkaget-kaget mendengar banyaknya jumlah hadirin di masjid terbesar Asia Tenggara tersebut… kenapa? Karena syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah cerita juga kepada syaikh-syaikh lain di Madinah… yg mereka tahu hanyalah, Syaikh Abdurrazzaaq pergi ke Indonesia dan mungkin diselingi dakwah, titik.

Ustadz juga bercerita, suatu ketika ada orang buta menemui syaikh di Madinah. Syaikh terlihat sangat menghormati orang buta tersebut, dikecupnya kening sang buta, lalu mereka mengobrol bersama…

Setelah selesai, ustadz bertanya “tadi ada apa?”. Lalu syaikh Abdurrazzaaq menjawab “tadi ada orang buta ingin meminta izin mencetak buku tulisan saya”. Dan selesailah perbincangan.

Usut punya usut, ternyata orang buta tersebut adalah Syaikh Shalih as-Suhaimi, salah seorang syaikh senior di Masjid Nabawi yang memang Allah takdirkan buta… beliau adalah guru syaikh Abdurrazzaaq, dan beliau meminta izin untuk mencetak buku syaikh Abdurrazzaaq utk diajarkan di masjid Nabawi…

Dan apa penjelasan syaikh Abdurrazzaaq? “Tadi ada orang buta ingin meminta izin mencetak buku tulisan saya”…

SubhaanAllah… lihatlah betapa rendah hatinya jawaban ini… sama sekali tidak ada nada meninggikan diri… tidak berbangga bahwa guru kita yang seorang syaikh sepuh di Madinah sekarang “berguru” pada kita… tidak berbangga bahwa buku kita dipakai mengajar di Masjid Nabawi…

Jika kita jadi beliau, akankah kita menjawab “tadi ada orang buta meminta izin untuk mencetak buku saya”…??

Ataukah kita akan menjawab, “tadi guru saya, seorang syaikh senior di Madinah, datang minta izin ingin mencetak buku saya untuk diajarkan di Masjid Nabawi”…??

Melalui kisah di atas:

Sudahkah niat kita ikhlas?
Sudahkah Allah menjadi tujuan kita?
Silakan direnungkan kembali

----------------------------------------
Dari kang Oja via grup Woles Aja

Rabu, 28 Januari 2015

Surat Paling Romantis Dari Suamiku

Surat paling romantis dari suamiku

Pagi itu ketika merapikan rumah aku menemukan sebuah kotak berhias pita tersimpan di atas meja makan. Diatasnya terdapat kertas bertuliskan "hadiah untuk bunda". Ini pasti dari suamiku, langsung saja aku buka kotak itu, didalamnya terdapat beberapa set gamis longgar dan kerudung lebar. Heran dengan hadiah dari suamiku yang aneh. "Kok modelnya gini? Eh, jangan2 mau di ajak umroh jadi dikasih baju seperti orang2 arab" aku menghibur diri. Masih dalam keadaan penasaran aku menemukan secarik kertas, surat dari suamiku.

Ini isinya:
" bunda sayang, pasti bunda kaget ya ayah kasih hadiahnya kali ini beda. Bukan baju modis dan juga bukan perhiasan kesukaan bunda. Tas yang sudah lama bunda minta, belum juga ayah belikan, dan malah hadiah ini yang ayah ingin berikan untuk bunda kali ini. Bunda pasti kecewa saat membukanya, tapi tunggu dulu. Ayah ingin ceritakan sesuatu. Senyum dulu ya bundanya. Ayah kan bisa lihat senyum bunda dari kantor. Ada cctv di hati ayah, hehehe..

Bunda sayang, ayah rupanya salah selama ini. Ayah bangga memperkenalkan bunda ke teman kantor ayah, relasi bisnis, dan apalagi ke atasan ayah. bangga rasanya punya istri yang cantik dan berpenampilan menarik. Berjalan disamping bunda, lalu melihat banyak mata melirik memperhatikan bunda. Pikir ayah saat itu, siapa dulu dong suaminya. Ayah yang selama ini membiarkan bunda bergaul bebas dengan teman laki2 ataupun perempuan. Bunda yang banyak keluar rumah sendiri tanpa di dampingi ayah dan berinteraksi dengan banyak orang. Ayah pikir, yaa bunda kan juga harus maju dan menjadi wanita masa kini yang mandiri dan supel. Makanya ayah percaya saja setiap kali bunda ada urusan sampai pulang larut malam, dan pulang diantar teman dekat laki laki yang bisa jaga bunda diperjalanan.

Kemarin itu, pak Jimmy teman kantor yang ayah kenalkan ke bunda tempo hari datang bawa istrinya. Diluar dugaan ayah, istrinya memakai pakaian lebar, kerudungnya panjang sampai betis. Polos dan sederhana sekali. Melihatnya ayah langsung menundukkan pandangan dan bersikap hormat. Bicara tanpa berani melihatnya. Diantara teman kantor yang lain, hanya pak jimmy ini yang belum pernah membawa istrinya di acara2 kantor. Hari itu pun karena kebetulan pak jimmy izin cuti untuk menengok ibunya yang sakit. Mampir ke kantor bersama istrinya untuk mengambil beberapa barang miliknya yang tertinggal.

Ko ayah reflek bersikap hormat dan malu melihatnya ya? Begitupun teman kantor yang lain, hanya menyapa tanpa berani melihatnya. Padahal kalau boleh jujur nih bunda, ayah dan teman2 kantor itu setiap hari ada saja perempuan yang kita jadikan bahan guyonan. Apalagi kalau lagi kedatangan SPG rokok yang sesekali datang ke kantor ayah. Sudah deh, heboh langsung seisi kantor otaknya langsung mendidih semua. Kecuali ayah lhoo bunda. Hehehe..

Ayah jadi mikir, berarti selama ini bunda pun ayah biarkan dilihat dan dinikmati mata laki2 atas kecantikan bunda. Ko beda ya rasanya, ternyata bukan bangga tapi seharusnya ayah cemburu membiarkan bunda tidak menutup aurat. Nah kemarin, saat pak jimmy kembali ke kantor ayah ngobrol2 dengan beliau. Ayah baru tahu kalau katanya, suami harus cemburu terhadap istrinya. Kalau Nda cemburu itu namanya Dayus, yaitu lelaki yang membiarkan kejahatan (zina, buka aurat, bergaul bebas) dilakukan oleh ahlinya (istri dan keluarganya). Dayus itu lawan kata dari cemburu (karena iman).

Kata pak jimmy, seorang suami yang peduli pada istrinya kadang akan nampak sebagai seorang pencemburu. Kecemburuan yang berdasarkan agama ini dibenarkan. Cemburu seorang suami dan ayah adalah wajib bagi mereka demi menjaga harga diri dan kehormatan istri dan anak anaknya.

Bunda, ayah menyesal baru menyadari ini tapi ayah bersyukur belum terlambat, baca ini dulu bunda:

"...dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka,..." ini ada dalam An Nur :31 dan ada lagi bunda..

"Dan hendaklah kamu tetap dirumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang orang jahiliah dahulu...." (QS. Al Ahzab : 33)

" Wahai nabi, katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu, dan istri istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu..." (QS. Al Ahzab : 59)

Bunda, bolehkah ayah meminta hadiah dari bunda? Jadikanlah ayah seorang laki laki yang bahagia karena ayah bunda jadikan sebagai laki laki satu2nya yang boleh melihat kecantikan bunda. Ayah ingin sekali bunda tampil sederhana saja saat keluar rumah, berbalut pakaian syar'i yang tidak perlu diperindah lagi dengan make up, warna dan aksesoris yang menarik perhatian. Karena percuma dong bunda kalau masih berhias walaupun berjilbab tetap saja akan beresiko menimbulkan fitnah.
Bunda sangat cantik, dan biarlah kecantikan itu jadi perhiasan dunia milik ayah saja. Bolehkah bunda jika ayah meminta ini? Ayah berdoa sambil menulis surat ini, semoga Alloh menghadiahi ayah istri sholeha yang akan mendampingi ayah didunia dan diakhirat.

Peluk ayah untuk bunda, sambut ayah nanti sore dengan pakaian barunya ya bunda?"

air mataku berurai jatuh, kertas berisi surat teromantis dari ayah untukku. Apalagi yang aku inginkan, kecuali pujian dan rasa kasih sayang ayah padaku karena ketaatannya pada Alloh. Baik ayah, permintaan ini terlalu mulia untuk aku tolak. Bismillah, hadiah ayah kali ini jadi hadiah terindah untukku.

Elmika Hijrah | 9 Februari 2014