Tidak samar lagi bagi setiap orang yang
berakal bahwa kaum Rofidhoh adalah kaum yang memiliki banyak
penyimpangan, kesesatan dan sisi kesamaan dengan kaum Yahudi . Oleh
karenanya, Imam Syafi’I memperingatkan keras kepada kita akan bahaya
mereka. Berikut ini beberapa nukilan dari Imam Syafii tentang Rofidhoh .
Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuka mata sebagian kalangan yang
masih tertipu oleh tipu muslihat Syi’ah:
Imam Syafi’i mengatakan:
لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِِِِِ الأَهْوَاءِِِِ أَشْهَدَ باِِلزُّوْرِ مِنَ الرَّافِضَةِ
“Saya tidak mendapati seorangpun dari pengekor hawa nafsu yang lebih pendusta daripada kaum Rofidhoh”.
2. Sholat di Belakang Imam Sholat Rofidhoh
قَالَ الْبُوَيْطِيُّ: سَأَلْتُ
الشَّافِعِيَّ: أُصَلِّيْ خَلْفَ الرَّافِضِيْ ؟ قَالَ: لاَ تُصَلِّ خَلْفَ
الرَّافِضِيِّ، وَلاَ الْقَدَرِيِّ، وَلاَ الْمُرْجِئِ. قُلْتُ: صِفْهُمْ
لَنَا. قَالَ: مَنْ قَالَ: الِإِيْمَانُ قَوْلٌ فَهُوَ مُرْجِئٌ، وَمَنْ
قَالَ: إِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَيْسَا بِإِمَامَيْنِ فَهُوَ
رَافِضِيٌّ، وَمَنْ جَعَلَ الْمَشِيْئَةَ إِلَى نَفْسِهِ فَهُوَ قَدَرِيٌّ
Berkata al-Buwaithi: Saya pernah bertanya
kepada Syafi’i: Apakah saya sholat di belakang Rofidhah? Beliau
menjawab: Jangan sholat di belakang seorang Rofidhah, Qodariyyah,
Murji’ah. Saya berkata: Sifatkanlah mereka kepada kita. Beliau menjawab:
Barangsiapa mengatakan bahwa iman itu sekadar ucapan maka dia adalah
murji’ah. Barangsiapa mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar bukan imam
maka dia adalah Rofidhoh. Barangsiapa yang menjadikan kehendak pada
dirinya maka dia adalah Qodariyyah.
قَالَ يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى:
سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ إِذَا ذُكِرَ الرَّافِضَةُ عَابَهُمْ أَشَدَّ
الْعَيْبِ، فَيَقُولُ: شَرَّ عِصَابَةٍ
.
Yunus bin Abdil A’la berkata: Saya mendengar Imam Syafi’i apabila disebutkan Rofidhoh maka beliau mencela mereka dengan keras seraya mengatakan: “Mereka adalah kelompok yang paling jelek”.
Yunus bin Abdil A’la berkata: Saya mendengar Imam Syafi’i apabila disebutkan Rofidhoh maka beliau mencela mereka dengan keras seraya mengatakan: “Mereka adalah kelompok yang paling jelek”.
Imam Syafi’i berkata:
أَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى خِلَافَةِ أَبِي
بَكْرٍ فَاسْتَخْلَفَ أَبُو بَكْرٍ عُمَرَ ثُمَّ جَعَلَ عُمَرُ الشُّورَى
إِلَى سِتَّةٍ عَلَى أَنْ يُوَلُّوهَا وَاحِدًا، فَوَلَّوْهَا عُثْمَانَ،
قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَذَلِكَ أَنَّهُ اضْطُرَّ النَّاسُ بَعْدَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَجِدُوا تَحْتَ أَدِيمِ
السَّمَاءِ خَيْرًا مِنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ فَوَلَّوْهُ رِقَابَهُمْ
.
Manusia telah bersepakat tentang kekhilafahan Abu Bakr, lalu Abu Bakr
mengangkat Umar menjadi khalifah, lalu Umar menyerahkan khilafah kepada
enam orang agar bermusyawarah untuk menunjuk salah satu diantara
mereka, lalu mereka menyerahkannya kepada Utsman. Imam Syafi’I
mengatakan: Manusia terdesak setelah Rasulullah lalu mereka tidak
mendapati seorangpun di bawah kolong langit yang lebih baik dari Abu
Bakr sehingga akhirnya mereka menyerahkan kepemimpinan kepadanya.5. Aqidah Syafi’I Tentang Tingkatan Keutamaan Sahabat
Imam Syafi’I berkata:
أَفْضَلُ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ
عُثْمَانُ ثُمَّ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
.
Manusia terbaik setelah Rasulullah adalah Abu Bakr kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali –Semoga Allah meridhoi mereka semua-.
Manusia terbaik setelah Rasulullah adalah Abu Bakr kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali –Semoga Allah meridhoi mereka semua-.
6. Memuliakan Para Sahabat Nabi
Imam Syafi’i berkata:
وأَعْرِفُ حَقَّ السَّلَفِ الَّذِينَ
اِخْتَارَهُمْ اللهُ تَعَالَى لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، وَالْأخْذُ بِفَضَائِلِهِمْ، وَأُمْسِكُ عَمَّا شَجَرَ
بَيْنَهُمْ صَغِيرِهِ وَ كَبِيرِهِ، وأقدم أبا بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ
عُثْمَانُ، ثُمَّ عَلِيّاً رضي الله عنهم، فَهُمُ الْخُلَفَاءُ
الرَّاشِدُونَ
.
Saya mengetahui hak salaf (pendahulu) yang dipilih oleh Allah untuk menemani NabiNya, saya mengambil keutamaan mereka, dan saya menahan diri dari perselisihan di antara mereka baik masalah kecil atau besar, dan saya mendahulukan Abu Bakr, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali, merekalah para khalifah rosyidin.
Saya mengetahui hak salaf (pendahulu) yang dipilih oleh Allah untuk menemani NabiNya, saya mengambil keutamaan mereka, dan saya menahan diri dari perselisihan di antara mereka baik masalah kecil atau besar, dan saya mendahulukan Abu Bakr, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali, merekalah para khalifah rosyidin.
7. Memuji Para Sahabat Nabi
Imam Syafi’i berkata:
وَقَدْ أَثْنَى اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
عَلَى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ فِي الْقُرْآنِ وَالتَّوْرَاةِ
وَالإِنْجِيْلِ, وَسَبَقَ لَهُمْ عَلَى لِسَانِ رَسُوْلِ اللهِ مِنَ
الْفَضْلِ مَا لَيْسَ لِأَحَدٍ بَعْدَهُمْ, فَرَحِمَهُمُ اللهُ
وَهَنَّأَهُمْ بِمَا أَتَاهُمْ مِنْ ذَلِكَ بِبُلُوْغِ أَعْلَى مَنَازِلِ
الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ, أَدَّوْا إِلَيْنَا
سُنَنَ رَسُوْلِ اللهِ وَشَاهَدُوْهُ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ,
فَعَلِمُوْا مَا أَرَادَ رَسُوْلُ اللهُ عَامًّا وَخَاصًّا وَعَزْمًا
وَإِرْشَادًا, وَعَرَفُوْا مِنْ سُنَّتِهِ مَا عَرَفْنَا وَجَهِلْنَا,
وَهُمْ فَوْقَنَا فِيْ كُلِّ عِلْمٍ وَاجْتِهَادٍ وَوَرَعٍ وَعَقْلٍ
وَأَمْرٍ اسْتُدْرِكَ بِهِ عُلِمَ وَاسْتُنْبِطَ بِهِ وَآرَاؤُهُمْ لَنَا
أَحْمَدُ وَأَوْلَى بِنَا مِنْ رَأْيِنَا عِنْدَ أَنْفُسِنَا
“Sungguh Allah telah memuji para sahabat
Rasulullah dalam Taurat dan Injil dan Allah memberikan lewat lisan
rasulNya kepada mereka keutamaan-keutamaan yang tidak diperoleh oleh
seorangpun setelah mereka, semoga Allah merahmati mereka dan memberikan
keselamatan kepada mereka dengan apa yang Allah berikan kepada mereka
itu untuk sampai ke tingkatan para shiddiqin (orang-orang jujur), para
syahid dan para shalihin, mereka telah menyampaikan sunnah Rasulullah
kepada kita, dan mereka menyaksikannya ketika wahyu turun kepada beliau,
sehingga mereka mengetahui maksud Rasulullah berupa umum dan khusus,
wajib dan sunnah, dan mereka mengetahui apa yang kita ketahui dan kita
tidak ketahui, mereka lebih tinggi daripada kita dari segi amal,
kesungguhan, waro’, akal dan perkara yang dikritik atau diambil dalil,
pendapat-pendapat mereka lebih terpuji dan lebih utama bagi kita
daripada pendapat kita sendiri”.
Imam Syafi’i berkata menasehati muridnya Rabi’:
لاَ تَخُوْضَنَّ فِيْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ ، فَإِنَّ خَصْمَكَ النَّبِيُّ غَدًا
“Janganlah engkau mencela para sahabat Nabi, karena musuhmu kelak adalah Rasulullah”.
Beliau juga berkata:
Beliau juga berkata:
مَا أَرَى النَّاسَ ابْتُلُوْا بِشَتْمِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ إِلاَّ
لِيَزِيْدَهُمُ اللهُ ثَوَابًا عِنْدَ انْقِطَاعِ عَمَلِهِمْ
“Menurutku, tidaklah manusia diberi kesempatan untuk mencela para
sahabat Nabi kecuali agar Allah menambah pahala mereka dengan celaan
tersebut ketika amal mereka telah terputus”.
Setelah penjelasan di atas, anehnya ada tuduhan yang dialamatkan kepada Imam Syafi’i bahwa beliau memiliki pemikiran Syi’ah Rofidhah, sungguh ini adalah tuduhan dusta yang dibantah sendiri oleh Imam Syafi’i dalam sya’irnya yang sering beliau senandungkan:
إِنْ كَانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ مُحَمَّدٍ
فَلْيَشْهَدِ الثَّقَلاَنِ أَنِّيْ رَافِضِيْ
Seandainya rofidhi adalah mencintai keluarga Muhammad
Maka saksikanlah bahwa saya adalah seorang rofidhoh.
Sungguh benar kata Imam adz-Dzahabi: “Barangsiapa menuduh Syafi’i
memiliki pemikiran syi’ah maka dia telah berbuat dusta, tidak mengetahui
apa yang dia ucapkan. Seandainya dia adalah syi’ah, maka tidak mungkin
dia mengatakan bahwa khalifah rosyidin itu lima , dia memulainya dengan
Abu Bakar dan mengakhirinya dengan Umar bin Abdul Aziz”. Namun yakinlah bahwa tuduhan seperti itu tidaklah menurunkan derajat
Imam Syafi’i. Imam adz-Dzahabi t berkata: “Al-Hafizh Abu Bakar
al-Khathib menulis sebuah kitab tentang hujjah-nya Imam asy-Syafi’i,
sehingga tidak ada yang mencelanya kecuali orang yang hasad dan jahil
tentang keadaannya. Ajaibnya, ucapan bathil yang keluar dari mulut
mereka malah mengangkat derajat Imam Asy-Syafi’i. Demikianlah
Sunnatullaah pada hamba-Nya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu men-jadi seperti
orang-orang yang menyakiti Musa, maka Alloh membersihkannya dari
tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang
mem-punyai kedudukan terhormat di sisi Alloh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 69)Penyusun: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar